Memuat data pasar…
Business Makroekonomi

Bioetanol Sorgum Lebih Kompetitif, Pemerintah Targetkan Mandatori E10 pada 2027

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Minggu, 26 Juli 2026

3 menit
Bioetanol Sorgum Lebih Kompetitif, Pemerintah Targetkan Mandatori E10 pada 2027

Pakar energi menilai bioetanol dari sorgum lebih kompetitif dibanding bahan lain, didukung rencana pemerintah menerapkan mandatori E10 pada 2027 untuk ketahanan energi.

Indonesia terus berupaya mencari alternatif energi terbarukan guna mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan menekan angka impor. Salah satu opsi yang kini menjadi sorotan adalah bioetanol yang dihasilkan dari sorgum. Para ahli energi menilai, bioetanol berbahan baku sorgum memiliki potensi besar untuk menjadi lebih kompetitif dibandingkan dengan sumber lain seperti tebu atau jagung, seiring dengan target pemerintah untuk menerapkan campuran etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) mulai tahun 2027.

Keunggulan Kompetitif Sorgum sebagai Bahan Baku Bioetanol

Menurut Ali Ahmudi Achyak, seorang pakar energi dari Universitas Indonesia (UI), harga bioetanol yang diproduksi dari sorgum akan jauh lebih kompetitif jika dibandingkan dengan bahan baku konvensional lainnya seperti tebu, jagung, atau singkong. Keunggulan ini bukan tanpa alasan. Ali menjelaskan bahwa pemanfaatan sorgum untuk bioetanol tidak akan bersaing secara langsung dengan kebutuhan pangan, sebuah masalah yang sering muncul pada tanaman pangan lain yang juga bisa diolah menjadi bioetanol.

Selain itu, sorgum dikenal sebagai tanaman yang tangguh dan mampu tumbuh di lahan-lahan yang kurang subur atau lahan kritis, di mana tanaman pangan lain sulit berkembang. Kondisi ini secara signifikan dapat menekan biaya pengembangan dan budidaya. Faktor lain yang mendukung daya saing sorgum adalah harga bibitnya yang relatif lebih murah dibandingkan dengan bibit jagung, sehingga semakin memperkuat posisi sorgum sebagai pilihan bahan baku bioetanol yang ekonomis.

Tantangan Harga dan Peran Insentif Pemerintah

Meskipun memiliki keunggulan dalam hal biaya produksi bahan baku, Ali Ahmudi Achyak mengakui bahwa harga bioetanol yang dihasilkan dari sorgum masih akan lebih tinggi dibandingkan dengan harga BBM berbasis fosil yang ada saat ini. Kesenjangan harga ini menjadi tantangan utama yang perlu diatasi agar bioetanol sorgum dapat diterima secara luas di pasar.

Untuk menjembatani selisih harga tersebut, Ali mengusulkan agar pemerintah memberikan berbagai bentuk insentif. Insentif ini bisa berupa subsidi untuk bibit sorgum, subsidi pupuk, hingga dukungan pendanaan untuk penelitian dan pengembangan lebih lanjut terkait pemanfaatan sorgum sebagai bahan baku bioetanol. Dengan adanya dukungan ini, diharapkan akan terbentuk sebuah ekosistem yang komprehensif, mulai dari pengelolaan lahan, penyediaan bibit dan pupuk, tata niaga yang efisien, hingga pembentukan komunitas petani yang siap dan bersedia menanam sorgum secara berkelanjutan.

Peta Jalan Pemerintah Menuju Kemandirian Energi

Komitmen pemerintah terhadap pengembangan bioetanol sebagai bagian dari strategi energi nasional semakin jelas. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah menargetkan implementasi campuran etanol 10 persen dalam BBM (E10) mulai tahun 2027. Ini akan menjadi fase awal sebelum beralih ke campuran yang lebih tinggi, yaitu E20.

Bahlil menambahkan bahwa kajian mengenai kebijakan mandatori etanol telah dimulai sejak tahun 2025 dan saat ini hampir rampung. Hasil kajian ini akan menjadi dasar penyusunan peta jalan penerapan E20 yang direncanakan berlangsung secara bertahap hingga periode 2028-2029. Kebijakan pencampuran etanol ke dalam bensin ini memiliki tujuan strategis yang krusial, yakni mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar minyak, khususnya bensin, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.

Bagi investor ritel di Indonesia, perkembangan kebijakan energi terbarukan ini patut dicermati. Potensi pengembangan bioetanol dari sorgum dapat membuka peluang investasi di berbagai sektor, mulai dari perusahaan agrikultur yang fokus pada budidaya sorgum, perusahaan pengolahan yang memproduksi etanol, hingga sektor energi yang terlibat dalam distribusi dan pemasaran bahan bakar campuran. Meskipun belum ada kode ticker spesifik yang disebutkan, investor dapat mulai melakukan riset terhadap emiten-emiten yang memiliki lini bisnis terkait atau berpotensi terlibat dalam rantai pasok bioetanol di masa depan, sebagai bagian dari strategi investasi jangka panjang yang selaras dengan transisi energi nasional.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bisnis.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Business#Makroekonomi