Memuat data pasar…
Global Ekonomi Global

Harga Kakao Turun, Mengapa Cokelat Masih Mahal di Pasar Global?

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Minggu, 26 Juli 2026

5 menit
Harga Kakao Turun, Mengapa Cokelat Masih Mahal di Pasar Global?

Meskipun harga kakao global mulai melunak setelah reli rekor, produsen cokelat besar masih mempertahankan harga tinggi sambil berinovasi untuk menarik konsumen.

Setelah periode lonjakan harga yang memecahkan rekor, harga kakao global kini menunjukkan tanda-tanda pelunakan. Namun, para pencinta cokelat mungkin harus menunda harapan untuk menikmati permen cokelat yang lebih murah dalam waktu dekat. Raksasa produsen cokelat dunia justru tengah sibuk merancang strategi baru, termasuk memanfaatkan tren media sosial, untuk kembali memikat hati para pembeli.

Dalam dua tahun terakhir, harga kakao melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kondisi cuaca ekstrem dan panen kakao yang buruk menjadi pemicu utama, yang pada akhirnya mendorong kenaikan biaya produksi cokelat dan menekan sentimen konsumen. Komoditas ini sempat mencapai puncaknya mendekati $12.000 per metrik ton pada awal tahun ini, jauh di atas kisaran normal $2.000 hingga $3.000 yang bertahan selama dua dekade terakhir. Kini, harga berjangka kakao diperdagangkan sekitar $5.327 per metrik ton, menunjukkan penurunan sekitar 34% dibandingkan setahun lalu.

Lonjakan Harga Kakao dan Tekanan pada Raksasa Cokelat

Kenaikan harga kakao yang drastis ini telah memberikan tekanan signifikan pada laporan keuangan perusahaan cokelat raksasa. Barry Callebaut, Lindt, dan Nestlé, semuanya mengakui bahwa harga kakao yang melambung tinggi menjadi beban bagi pendapatan mereka.

Lindt, misalnya, melaporkan bahwa kenaikan harga sebesar 11,8% di seluruh grup menyebabkan volume penjualan cokelat mereka anjlok 7,5% pada paruh pertama tahun ini, karena lebih sedikit konsumen yang membeli produk mereka. CEO Grup Lindt, Adalbert Lechner, menjelaskan bahwa harga kakao yang mencapai rekor tertinggi menuntut kenaikan harga yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh industri. Selain itu, ketidakpastian geopolitik, inflasi, dan sentimen konsumen yang lemah turut membebani permintaan. Konflik di Timur Tengah juga menambah tantangan, dengan berkurangnya aliran wisatawan dari Asia dan Timur Tengah ke Eropa.

Di sisi lain, Barry Callebaut, pemasok cokelat dan kakao terbesar di dunia, mencatat bahwa meskipun konsumen global membeli 4,4% lebih sedikit cokelat pada kuartal ketiga dibandingkan periode yang sama tahun lalu, volume penjualan keseluruhan perusahaan justru tumbuh 5,7% pada kuartal tersebut, menandai pertumbuhan positif pertama dalam lebih dari dua tahun. Penjualan kakao global mereka bahkan melonjak 18% berkat koreksi pasar di awal tahun.

Sementara itu, Nestlé, perusahaan makanan dan minuman global, melaporkan bahwa harga kakao dan kopi yang lebih tinggi memukul laba operasional perdagangan mereka pada paruh pertama tahun ini, yang turun 2,8%. Bisnis kembang gula Nestlé menyumbang 9,7% dari total penjualan mereka, dan perusahaan berharap margin akan membaik seiring dengan penurunan harga kakao.

Badai Iklim dan Geopolitik di Balik Volatilitas Kakao

Volatilitas harga kakao sebagian besar disebabkan oleh panen kakao yang buruk di Afrika Barat, wilayah yang menyumbang 60-70% produksi biji kakao global, terutama Pantai Gading dan Ghana. Kondisi ini diperparah oleh pola cuaca El Niño dan perubahan iklim. El Niño, fenomena cuaca dengan suhu di atas rata-rata yang terjadi setiap dua hingga tujuh tahun di Samudra Pasifik, menyebabkan cuaca lebih kering, lebih panas, dan curah hujan tidak menentu di Afrika Barat pada tahun 2024, yang berdampak langsung pada hasil panen.

Perubahan iklim dan peningkatan suhu global juga memainkan peran penting, dengan tahun 2024 tercatat sebagai tahun terpanas. Gelombang panas baru-baru ini di Eropa bahkan dapat mengurangi antusiasme konsumen terhadap cokelat, menurut analis UBS. Penjualan di Eropa, tidak termasuk Eropa Timur, telah menurun dalam empat minggu hingga 14 Juni.

Selain faktor iklim, isu geopolitik juga turut memengaruhi. Tarif timbal balik yang diberlakukan oleh mantan Presiden AS Donald Trump sempat menyebabkan lonjakan harga dan gangguan rantai pasokan. Lebih baru lagi, konflik di Timur Tengah juga memukul bisnis ritel perjalanan Lindt secara global dengan mengurangi aliran wisatawan.

Meskipun El Niño yang kuat diproyeksikan akan kembali pada tahun 2026 dan 2027, yang berpotensi menimbulkan risiko penurunan pasokan, surplus besar yang diperkirakan untuk tahun 2025-2026 diharapkan dapat menjadi penyangga, menciptakan situasi yang sangat berbeda dari periode 2023-2024. Perusahaan seperti Lindt juga telah melakukan lindung nilai (hedging) pada harga biji kakao yang menguntungkan untuk tahun 2027, sebuah langkah yang diperkirakan dapat mengurangi biaya hingga 500 juta franc Swiss.

Strategi Inovasi Produsen Cokelat di Tengah Tantangan Pasar

Dengan ekspektasi harga kakao yang mulai pulih, para produsen cokelat kini berfokus untuk memenangkan kembali basis pelanggan inti mereka. Strategi utama melibatkan inovasi format produk premium dan pemantauan ketat terhadap tren media sosial yang digandrungi kaum muda.

Lindt, misalnya, meluncurkan cokelat batangan bergaya Dubai pada Desember 2024, memanfaatkan tren viral di media sosial. Kesuksesan luar biasa peluncuran ini menunjukkan kekuatan media sosial dalam membangun kesadaran, keterlibatan, dan permintaan merek. CEO Lindt, Lechner, menyatakan perusahaan berencana memperluas kehadiran di media sosial untuk menciptakan perjalanan yang mulus antara inspirasi, penemuan, dan pembelian, guna menjangkau audiens baru dan memperkuat relevansi dengan konsumen yang lebih muda.

Nestlé juga menggemakan pandangan ini, dengan CEO Philipp Navratil mengumumkan rencana untuk berinvestasi lebih banyak dalam pemasaran influencer, mengubah cara merek beriklan menjadi “lebih digital, lebih sosial, lebih organik, lebih menyenangkan,” sesuai dengan cara konsumen muda berinteraksi dengan dunia.

Baik Barry Callebaut maupun Lindt juga berfokus pada minat konsumen terhadap produk premium di sisa paruh kedua tahun ini, namun mereka berkreasi dalam menawarkan produk daripada menaikkan harga. Lindt, misalnya, secara selektif menurunkan harga di pasar-pasar utama seperti Jerman dan Swiss, terutama saat Natal, untuk mendukung permintaan konsumen selama musim terpenting mereka. Strategi ini memungkinkan mereka menarik konsumen baru dan meningkatkan frekuensi pembelian tanpa mengorbankan posisi premium merek.

Implikasi bagi Pasar dan Investor Ritel Indonesia

Meskipun Indonesia bukan produsen kakao terbesar di dunia, dinamika harga komoditas global seperti kakao tetap memiliki implikasi bagi pasar dan investor ritel di Tanah Air. Kenaikan harga kakao di masa lalu, dan potensi volatilitas di masa depan, dapat memengaruhi biaya produksi bagi perusahaan makanan dan minuman di Indonesia yang menggunakan kakao sebagai bahan baku. Investor perlu mencermati laporan keuangan emiten di sektor konsumer, terutama yang memiliki lini produk cokelat atau kembang gula, karena margin keuntungan mereka bisa tertekan atau justru membaik seiring pergerakan harga komoditas. Selain itu, tren inovasi dan pemasaran digital yang diterapkan oleh raksasa cokelat global juga bisa menjadi inspirasi atau tantangan bagi perusahaan lokal untuk beradaptasi dan tetap kompetitif di pasar yang semakin dinamis.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC International.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Ekonomi Global