Memuat data pasar…

Kinerja Dunia Usaha Indonesia Dorong Rupiah Menguat, Inflasi Global Jadi Ancaman

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Jumat, 17 Juli 2026

3 menit
Kinerja Dunia Usaha Indonesia Dorong Rupiah Menguat, Inflasi Global Jadi Ancaman

Rupiah menguat signifikan didukung hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha BI yang menunjukkan peningkatan aktivitas, meski ancaman inflasi global akibat konflik AS-Iran tetap jadi perhatian.

Rupiah Menguat Ditopang Optimisme Ekonomi Domestik

Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif pada penutupan perdagangan Jumat sore, berhasil menguat 65 poin atau 0,45 persen. Mata uang Garuda ditutup pada level Rp17.921 per dolar Amerika Serikat (AS), membaik dari posisi sebelumnya di Rp17.986 per dolar AS. Penguatan ini juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang bergerak menguat ke Rp17.944 per dolar AS dari sebelumnya Rp18.041 per dolar AS.

Analis pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyoroti bahwa penguatan rupiah ini sebagian besar dipengaruhi oleh rilis hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) periode kuartal II-2026 oleh Bank Indonesia (BI). Data survei tersebut memberikan gambaran yang cukup meyakinkan mengenai kondisi fundamental ekonomi domestik.

Aktivitas Dunia Usaha Indonesia Tumbuh Solid

Laporan SKDU BI mengindikasikan adanya peningkatan aktivitas dunia usaha yang signifikan. Saldo Bersih Tertimbang (SBT) pada kuartal II-2026 tercatat sebesar 12,97 persen, menunjukkan kenaikan yang cukup substansial dibandingkan kuartal sebelumnya yang berada di angka 10,11 persen. Peningkatan ini menjadi sinyal positif bagi prospek ekonomi nasional.

Peningkatan kegiatan usaha ini didorong oleh kinerja yang membaik di mayoritas Lapangan Usaha (LU) utama. Beberapa sektor yang menonjol antara lain:

  1. LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan: Menunjukkan aktivitas usaha yang meningkat.
  2. LU Konstruksi: Mengalami peningkatan sejalan dengan proyek-proyek yang berjalan.
  3. LU Pertambangan dan Penggalian: Juga menunjukkan pertumbuhan aktivitas.
  4. LU Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum: Kinerja sektor ini terjaga baik, didukung oleh permintaan yang kuat selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) dan musim liburan sekolah pada triwulan II-2026.

Selain itu, kapasitas produksi terpakai pada kuartal II-2026 juga tercatat lebih tinggi, mencapai 73,8 persen, naik dari 73,33 persen pada kuartal sebelumnya. Peningkatan ini terutama ditopang oleh LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan, LU Pertambangan dan Penggalian, serta LU Pengadaan Listrik. Secara umum, kondisi keuangan dunia usaha tetap baik, baik dari aspek likuiditas maupun rentabilitas, dengan akses kredit yang relatif mudah.

Proyeksi Bisnis Kuartal Mendatang dan Sektor Manufaktur

Meskipun ada optimisme, responden SKDU memperkirakan aktivitas dunia usaha akan sedikit melambat pada kuartal III-2026, dengan SBT diproyeksikan berada di 11,75 persen. Namun, beberapa lapangan usaha diperkirakan tetap menunjukkan peningkatan kinerja, seperti:

  1. LU Industri Pengolahan: Diproyeksikan tumbuh.
  2. LU Perdagangan Besar dan Eceran, serta Reparasi Mobil dan Motor: Diharapkan tetap terjaga seiring dengan perkiraan permintaan masyarakat yang stabil.
  3. LU Konstruksi: Akan terus berlanjut seiring dengan pengerjaan sejumlah proyek pemerintah dan swasta.
  4. LU Pertambangan dan Penggalian: Diprediksi meningkat, terutama karena penurunan curah hujan yang mendukung aktivitas pertambangan.

Di sisi lain, Prompt Manufacturing Index Bank Indonesia (PMI BI) untuk kuartal II-2026 mencatatkan kinerja industri pengolahan di level 51,43 persen, sedikit lebih rendah dari 52,03 persen pada periode sebelumnya. Ibrahim menjelaskan bahwa PMI BI ini didorong oleh ekspansi pada beberapa komponen utama, seperti Volume Produksi (53,81 persen), Volume Persediaan Barang Jadi (53,00 persen), serta Volume Total Pesanan (52,77 persen).

Bayangan Inflasi Global dan Kebijakan The Fed

Di tengah sentimen positif domestik, pasar global masih dibayangi oleh kekhawatiran yang dapat memengaruhi stabilitas ekonomi. Konflik yang terus berlanjut antara Amerika Serikat dan Iran menimbulkan kekhawatiran akan kenaikan biaya energi, yang berpotensi memicu inflasi global.

Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa harga minyak yang lebih tinggi berisiko mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve (The Fed) AS, meningkatkan kemungkinan inflasi tetap di atas target. Meskipun data inflasi konsumen dan produsen AS baru-baru ini menunjukkan penurunan tekanan harga, pasar cenderung mengabaikan data retrospektif tersebut. Hal ini disebabkan oleh kekhawatiran bahwa kenaikan harga energi terbaru dapat membalikkan tren disinflasi yang telah terjadi.

Para pejabat The Fed secara konsisten menekankan bahwa risiko inflasi masih ada. Mereka telah berulang kali memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak akibat konflik di Timur Tengah dapat memperumit prospek inflasi, dan menyatakan bahwa mereka membutuhkan beberapa bulan lagi data harga yang rendah sebelum mempertimbangkan pemotongan suku bunga.

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi ini menyajikan gambaran yang kompleks. Penguatan rupiah dan solidnya aktivitas dunia usaha domestik dapat menjadi pendorong positif bagi pasar modal Indonesia, termasuk kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan emiten-emiten di dalamnya. Namun, bayangan inflasi global dan ketidakpastian kebijakan moneter The Fed perlu dicermati. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, memantau perkembangan geopolitik dan harga komoditas global, serta mempertimbangkan diversifikasi portofolio untuk menghadapi potensi volatilitas pasar yang mungkin timbul dari dinamika ekonomi global.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bisnis.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Economics