Kenaikan Biaya Dana Membuat BTN Selektif Salurkan Kredit Korporasi
BTN menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit korporasi akibat kenaikan biaya dana dan likuiditas yang ketat
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) telah mengambil keputusan untuk menjadi lebih selektif dalam menyalurkan kredit kepada korporasi besar. Hal ini disebabkan oleh kenaikan biaya dana (cost of fund) yang terjadi di tengah likuiditas yang ketat.
Kenaikan Biaya Dana dan Likuiditas
Kenaikan suku bunga acuan (BI-Rate) yang diikuti dengan kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) telah menyerap likuiditas perbankan, sehingga biaya penghimpunan dana meningkat. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menyatakan bahwa perseroan tidak lagi dapat menawarkan kredit berbunga rendah kepada debitur akibat kenaikan biaya dana.
Penyaluran Kredit Korporasi
BTN akan lebih selektif menyalurkan kredit kepada korporasi besar yang berimbal hasil rendah. Namun, penyaluran kredit untuk program pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perumahan atau Kredit Program Perumahan (KKP) serta Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP), tetap menjadi prioritas. Nixon menyatakan bahwa perseroan memilih segmen yang akan dimasuki dan memprioritaskan program pemerintah.
Pertumbuhan Kredit dan Biaya Dana
BTN tetap mempertahankan target pertumbuhan kredit tahun ini di kisaran 8-10 persen dan tidak merevisi Rencana Bisnis Bank (RBB). Perseroan hanya melakukan penyesuaian terhadap indikator kinerja internal (KPI). Target biaya dana juga dipertahankan pada kisaran 3,1-3,3 persen hingga akhir tahun.
Dampak terhadap Investor Ritel
Bagi investor ritel, kenaikan biaya dana dan likuiditas yang ketat dapat mempengaruhi kemampuan bank untuk menyalurkan kredit. Hal ini dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi dan stabilitas keuangan. Oleh karena itu, investor ritel perlu memantau perkembangan kebijakan moneter dan kondisi makroekonomi untuk membuat keputusan investasi yang tepat.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Finansial.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.