Saham Teknologi Global Anjlok Tajam, Ketegangan Timur Tengah Picu Kenaikan Suku Bunga
Pasar saham global terguncang oleh aksi jual saham teknologi yang meluas dari AS ke Eropa dan Asia, diperparah ketegangan Timur Tengah yang memicu kenaikan suku bunga.
Pasar saham global kembali diuji dengan gelombang aksi jual yang melanda sektor teknologi, menyebar dari bursa Amerika Serikat hingga ke Asia dan Eropa. Sentimen negatif ini memicu kekhawatiran investor mengenai keberlanjutan reli saham berbasis kecerdasan buatan (AI) yang telah mendorong pasar sepanjang tahun ini.
Indeks Stoxx Europe 600 tercatat melemah 0,5%, dengan sektor teknologi memimpin penurunan sebesar 1%. Di Asia, indeks Nikkei 225 Jepang anjlok hampir 5%, sementara SSE Composite Tiongkok turun 3,3%. Korea Selatan, yang sangat sensitif terhadap pergerakan saham chip, tidak beroperasi hari ini.
Aksi Jual Saham Chip Meluas ke Eropa dan Asia
Perusahaan-perusahaan pembuat chip terkemuka merasakan dampak paling signifikan. ASML, produsen peralatan manufaktur chip asal Belanda, merosot 4,6%. Senada, Infineon Technologies dari Jerman dan STMicroelectronics juga mengalami penurunan sekitar 4,6% hingga 4,7%. Di Jepang, produsen chip Kioxia bahkan anjlok 16%.
Penurunan ini mengikuti tren serupa di bursa AS sehari sebelumnya, di mana saham produsen memori dan penyimpanan data seperti Sandisk, WesternDigital, dan Seagate anjlok lebih dari 9%. Sementara itu, Intel dan Micron masing-masing kehilangan sekitar 6% nilainya.
Indeks berjangka Nasdaq yang didominasi saham teknologi diperkirakan akan dibuka melemah hampir 2%, sementara S&P 500 juga diproyeksikan turun sekitar 1%. Meskipun valuasi saham chip telah moderat dari level puncaknya, pemulihan dalam waktu dekat tampaknya belum akan terjadi.
Raksasa Teknologi Lain Ikut Tertekan
Tidak hanya sektor chip, beberapa raksasa teknologi lain juga menunjukkan tanda-tanda tekanan. SpaceX, misalnya, melanjutkan penurunannya dengan anjlok 4% di sesi pra-pasar, menambah kerugian 12% dalam lima sesi perdagangan terakhir. Saham perusahaan ini kini diperdagangkan di bawah harga IPO-nya, mencerminkan moderasi valuasi setelah sempat mencapai puncaknya bulan lalu.
Netflix juga menjadi sorotan setelah melaporkan pendapatan kuartal kedua yang mencapai $12,56 miliar, namun sahamnya justru anjlok 9% di sesi pra-pasar. Investor mencerna panduan ke depan yang lebih lemah dari ekspektasi, menandakan profil pertumbuhan yang mulai matang bagi raksasa streaming berusia 28 tahun ini. Penurunan ini menambah kerugian Netflix yang sudah mencapai 21% sepanjang tahun ini, menempatkannya di wilayah pasar bearish.
Reaksi pasar terhadap Netflix, yang sering dianggap sebagai pembuka musim laporan keuangan sektor teknologi, bukanlah pertanda baik bagi prospek perusahaan teknologi lainnya.
Ketegangan Geopolitik dan Dampaknya pada Ekonomi
Di tengah gejolak pasar saham, ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memanas, menambah lapisan ketidakpastian ekonomi global. Laporan mengenai pembajakan kapal tanker kimia di lepas pantai selatan Yaman, Teluk Aden, memicu kekhawatiran baru.
Peristiwa ini, bersama dengan konflik yang lebih luas di kawasan tersebut, telah memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi dan pada gilirannya, kenaikan suku bunga. Di Inggris, setidaknya 13 pemberi pinjaman besar telah menaikkan suku bunga hipotek mereka minggu ini, termasuk Barclays, Nationwide Building Society, dan NatWest.
Dampak ketegangan ini juga terasa pada sektor ritel mewah. Merek Inggris Burberry melaporkan pertumbuhan penjualan di AS dan Korea Selatan, namun penjualan di Timur Tengah dan Eropa justru menurun. Perusahaan mengaitkan penurunan ini dengan berkurangnya jumlah wisatawan Asia yang biasanya transit di Timur Tengah dan melanjutkan perjalanan ke Eropa, akibat konflik di Iran. Saham Burberry sendiri anjlok sekitar 6% setelah investor kecewa dengan proyeksi perusahaan yang tidak terlalu bullish mengenai masa depan.
Bagi investor ritel di Indonesia, gejolak pasar global ini patut dicermati. Aksi jual di sektor teknologi global dapat memicu sentimen negatif di pasar saham domestik, terutama pada saham-saham yang memiliki eksposur terhadap teknologi atau yang sensitif terhadap pergerakan pasar global. Ketidakpastian geopolitik juga berpotensi memengaruhi harga komoditas dan nilai tukar rupiah. Oleh karena itu, diversifikasi portofolio dan kehati-hatian dalam mengambil keputusan investasi menjadi kunci di tengah dinamika pasar yang volatil ini.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan The Guardian Business.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.