Inggris Nasionalisasi British Steel, Lindungi Pekerjaan dan Keamanan Ekonomi Nasional
Pemerintah Inggris mengambil alih British Steel untuk melindungi ribuan pekerjaan dan menjaga kemampuan produksi baja primer nasional di tengah kerugian finansial dan tantangan pasar global.
Pemerintah Inggris Ambil Alih Kendali British Steel
Pemerintah Inggris secara resmi mengambil alih kepemilikan British Steel, sebuah langkah krusial yang ditempuh setelah bertahun-tahun ketidakpastian mengenai masa depan pabrik baja tersebut. Keputusan ini diambil beberapa bulan setelah pemerintah Inggris sebenarnya telah mengendalikan operasional pabrik di Scunthorpe, Lincolnshire, meskipun kepemilikan perusahaan masih berada di tangan Jingye Group dari Tiongkok. Langkah nasionalisasi ini bertujuan utama untuk melindungi ribuan lapangan kerja dan menjaga kemampuan produksi baja primer yang vital bagi keamanan ekonomi dan infrastruktur nasional.
Pabrik British Steel di Scunthorpe mempekerjakan sekitar 2.700 orang, atau sekitar tiga perempat dari total tenaga kerja perusahaan. Fasilitas ini merupakan satu-satunya di Inggris yang masih memproduksi baja murni (virgin steel), jenis baja yang esensial untuk proyek-proyek konstruksi besar seperti gedung-gedung pencakar langit dan jalur kereta api, karena memiliki kualitas dan ketahanan yang lebih unggul dibandingkan baja daur ulang. Jika produksi baja murni ini terhenti, Inggris akan menjadi satu-satunya negara anggota G7 yang tidak memiliki kemampuan produksi baja primer, sebuah skenario yang dianggap pemerintah sebagai risiko serius terhadap keamanan ekonomi negara.
Krisis yang Mengakar di Jantung Industri Baja Inggris
Sejarah British Steel mencerminkan gejolak dalam industri baja global. Pada tahun 2016, Tata Steel menjual unit bisnisnya yang merugi, yang memproduksi produk baja panjang seperti rel transportasi dan bagian baja untuk konstruksi. Perusahaan investasi swasta Greybull Capital kemudian mengakuisisinya dengan harga simbolis £1 dan mengubah namanya menjadi British Steel. Namun, setelah mengalami keruntuhan finansial pada tahun 2019, British Steel diambil alih oleh layanan insolvensi pemerintah.
Setahun kemudian, perusahaan ini dijual kepada Jingye Group, raksasa baja asal Tiongkok. Namun, di bawah kepemilikan Jingye pun, British Steel terus menghadapi tantangan berat. Pada akhir Maret 2025, Jingye menyatakan bahwa pabrik Scunthorpe merugi sekitar £700.000 setiap hari dan meluncurkan konsultasi mengenai penutupannya. Mereka menyalahkan kondisi pasar yang “sangat menantang,” tarif perdagangan, dan biaya tinggi yang terkait dengan transisi menuju teknik produksi rendah karbon sebagai penyebab utama. Laporan dari National Audit Office pada Maret tahun ini bahkan mencatat bahwa operasional pabrik Scunthorpe membebani pemerintah sekitar £1,3 juta per hari.
Tekanan Pasar Global dan Tantangan Domestik
Penurunan produksi baja di Inggris telah berlangsung selama beberapa dekade, dan tekanan finansial yang dihadapi industri ini semakin diperparah oleh berbagai faktor. Salah satunya adalah pengenaan tarif 25% oleh Amerika Serikat terhadap baja impor pada Maret tahun lalu. Selain itu, kelebihan produksi global telah menciptakan “banjir baja di pasar internasional,” yang menekan harga jual. Produsen Inggris juga menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi, terutama untuk listrik, dibandingkan dengan perusahaan di negara lain.
Masalah lain yang mendesak adalah kondisi infrastruktur pabrik. Empat tanur tinggi di Scunthorpe, yang dinamai Ratu Inggris—Bess, Mary, Anne, dan Victoria—kini hanya menyisakan Bess (beroperasi sejak 1938) dan Anne (beroperasi sejak 1954) yang masih berfungsi. Keduanya sudah sangat tua dan mendekati akhir masa operasionalnya. Tanur tinggi dirancang untuk beroperasi secara terus-menerus; membiarkannya mendingin dapat menyebabkan kerusakan serius dan membutuhkan biaya puluhan juta pound untuk perbaikan atau memulai kembali. Pasokan bahan bakar seperti batu bara kokas dan pelet besi juga mulai menipis.
Reaksi dan Strategi Pemerintah Inggris
Pemerintah Inggris menegaskan bahwa nasionalisasi ini akan melindungi pekerjaan dan menjaga “kemampuan nasional yang vital.” Langkah ini memberikan waktu dan keleluasaan bagi pemerintah untuk menentukan masa depan pabrik, sambil memastikan tanur tinggi tetap beroperasi. Meskipun demikian, pemerintah kemungkinan besar tidak ingin terus-menerus mengelola bisnis yang merugi lebih dari satu juta poundsterling setiap hari.
Jingye Group sendiri kini menuntut kompensasi atas nasionalisasi tersebut, sementara Kementerian Perdagangan Tiongkok menyatakan “sangat menentang dan sangat tidak puas dengan keputusan pemerintah Inggris.” Sekretaris Bisnis Peter Kyle menyatakan bahwa nilai kompensasi akan ditentukan oleh penilai independen. Ia juga menegaskan bahwa alternatifnya adalah membiarkan bisnis ini bangkrut, yang berarti Inggris akan kehilangan kemampuan produksi baja primer dan menjadi sepenuhnya bergantung pada pasokan global.
Di sisi lain, produsen baja besar lainnya di Inggris, Tata Steel di Port Talbot, Wales, juga menghadapi tantangan serupa. Mereka telah mematikan tanur tingginya pada September 2024 setelah merugi £1,7 juta per hari, namun mencapai kesepakatan dengan pemerintah Inggris untuk menerima £500 juta guna beralih ke metode produksi baja yang lebih ramah lingkungan. Industri baja Inggris secara keseluruhan menyumbang £1,7 miliar bagi ekonomi Inggris pada tahun 2024, namun hanya mewakili 0,3% dari total produksi baja dunia, jauh di bawah Tiongkok yang mendominasi dengan 54%.
Implikasi bagi Investor Ritel Indonesia
Meskipun kasus nasionalisasi British Steel terjadi di Inggris, peristiwa ini membawa implikasi yang lebih luas bagi investor ritel di Indonesia. Pertama, ini menyoroti kerentanan industri komoditas global terhadap tekanan pasar, kelebihan pasokan, dan biaya produksi yang tinggi, yang dapat memengaruhi harga komoditas seperti bijih besi dan batu bara yang menjadi andalan ekspor Indonesia. Kedua, intervensi pemerintah dalam industri strategis menunjukkan tren proteksionisme ekonomi di tengah ketidakpastian global, yang bisa berdampak pada rantai pasok dan perdagangan internasional. Bagi investor Indonesia, hal ini menjadi sinyal untuk lebih cermat dalam menilai prospek perusahaan di sektor pertambangan, manufaktur, dan konstruksi yang sangat bergantung pada dinamika harga komoditas global dan kebijakan perdagangan. Diversifikasi portofolio dan fokus pada perusahaan dengan fundamental kuat serta kemampuan beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar global menjadi semakin penting.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan BBC Business.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.