Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Tertekan Kenaikan Harga Minyak Global di Tengah Konflik Timur Tengah

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Jumat, 24 Juli 2026

3 menit
IHSG Tertekan Kenaikan Harga Minyak Global di Tengah Konflik Timur Tengah

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah 0,30% dipicu kehati-hatian investor akibat lonjakan harga minyak mentah global imbas eskalasi konflik di Timur Tengah.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Kamis dengan pelemahan, mencerminkan sikap kehati-hatian investor di tengah gejolak pasar global. Indeks acuan tersebut turun 19,17 poin atau 0,30 persen, mengakhiri sesi di level 6.315,31. Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam indeks LQ45 juga mengalami koreksi, melemah 5,43 poin atau 0,86 persen ke posisi 627,12.

Sentimen negatif ini utamanya dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah global yang mencapai level tertinggi dalam enam pekan terakhir. Eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya antara Amerika Serikat dan Iran, menjadi pendorong utama kenaikan harga komoditas energi ini, yang kemudian memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar.

Harga Minyak Global Memicu Kehati-hatian Pasar

Kenaikan harga minyak mentah global menjadi faktor dominan yang mempengaruhi pergerakan IHSG. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) dan Brent masing-masing terpantau di atas 89 dolar AS per barel dan 97 dolar AS per barel. Situasi ini, menurut Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim, membuat investor cenderung mengambil sikap hati-hati dan lebih fokus pada strategi perdagangan jangka pendek.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat menunjukkan volatilitas dengan kecenderungan menguat, bahkan mencapai level tertinggi yang didukung oleh kinerja positif saham-saham komoditas. Sektor energi dan emas, misalnya, sempat menjadi penopang utama seiring dengan kenaikan harga komoditas global tersebut. Namun, memasuki sesi kedua, kekhawatiran akan dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi global mulai mendominasi, mendorong investor untuk menarik diri dan memicu pelemahan indeks.

Proyeksi dan Level Kritis IHSG Mendatang

Melihat dinamika pasar saat ini, para analis memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam fase konsolidasi dengan potensi pelemahan lebih lanjut menjelang akhir pekan. Potensi aksi ambil untung (profit taking) oleh investor diperkirakan akan menjadi salah satu pemicu utama koreksi. Ratna Lim menambahkan bahwa jika IHSG menembus level rata-rata pergerakan 5 hari (MA5) di sekitar 6.279, maka indeks berpotensi menguji level support berikutnya di rentang 6.200-6.250.

Pergerakan IHSG pada Kamis menunjukkan pola yang menarik. Dibuka menguat dan bertahan di teritori positif hingga penutupan sesi pertama, indeks kemudian berbalik arah ke zona merah pada sesi kedua, dan bertahan di sana hingga penutupan perdagangan. Ini mengindikasikan adanya perubahan sentimen yang signifikan di tengah hari perdagangan.

Kinerja Sektoral dan Pergerakan Saham Pilihan

Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, kinerja sektor-sektor di BEI menunjukkan gambaran yang beragam. Enam sektor berhasil menguat, dengan sektor properti memimpin kenaikan sebesar 3,20 persen. Diikuti oleh sektor energi yang naik 1,59 persen dan sektor barang konsumen primer yang menguat 1,54 persen. Kenaikan di sektor energi ini kemungkinan besar merupakan respons terhadap lonjakan harga minyak mentah global, meskipun secara keseluruhan sentimen pasar cenderung negatif.

Di sisi lain, lima sektor mengalami pelemahan. Sektor barang konsumen non-primer mencatat penurunan terdalam sebesar 1,08 persen, diikuti oleh sektor keuangan yang turun 1,00 persen, dan sektor industri yang melemah 0,94 persen. Penurunan di sektor-sektor ini mencerminkan kekhawatiran akan daya beli konsumen dan potensi tekanan pada sektor keuangan akibat ketidakpastian ekonomi.

Beberapa saham yang mencatat penguatan terbesar antara lain FUTR, MPRO, ENAK, ZATA, dan ALKA. Sementara itu, saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar meliputi SWID, HOPE, LUCK, WMUU, dan FORU. Total frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 3.148.000 kali transaksi, dengan jumlah saham yang diperdagangkan mencapai 59,77 miliar lembar saham senilai Rp23,88 triliun. Sebanyak 343 saham menguat, 309 saham menurun, dan 313 saham tidak bergerak nilainya.

Di pasar regional Asia, bursa saham menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Indeks Nikkei Jepang menguat 0,39 persen, indeks Shanghai Tiongkok naik 0,25 persen, indeks Hang Seng Hong Kong melonjak 1,28 persen, dan indeks Kospi Korea Selatan menguat 4,40 persen. Namun, indeks Strait Times Singapura justru melemah 0,32 persen, menunjukkan sentimen yang tidak seragam di seluruh kawasan.

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi pasar yang volatil ini menuntut kehati-hatian ekstra. Fluktuasi harga minyak global dan ketegangan geopolitik dapat terus memengaruhi sentimen pasar. Disarankan untuk tetap fokus pada fundamental perusahaan, melakukan diversifikasi portofolio, dan mempertimbangkan horizon investasi jangka panjang. Memantau level support dan resistance IHSG, serta berita-berita ekonomi global, akan menjadi kunci untuk mengambil keputusan investasi yang lebih terinformasi di tengah ketidakpastian ini.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bursa.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham