Memuat data pasar…
Global Ekonomi Global

Pemerintahan Trump Terapkan Tarif Baru, Perdagangan Global Kembali Memanas

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Jumat, 24 Juli 2026

3 menit
Pemerintahan Trump Terapkan Tarif Baru, Perdagangan Global Kembali Memanas

Pemerintahan Donald Trump kembali memberlakukan gelombang tarif baru terhadap lebih dari 80 negara, menggantikan kebijakan sebelumnya dan memicu kekhawatiran baru di pasar global.

Pemerintahan mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menggulirkan kebijakan perdagangan agresifnya dengan memberlakukan gelombang tarif baru yang luas. Langkah ini diambil untuk menggantikan bea masuk global sebesar 10% yang akan berakhir pada Jumat pagi waktu setempat. Kebijakan baru ini menandai babak terbaru dalam pendekatan perdagangan yang kontroversial dari administrasi Trump.

Kebijakan Perdagangan Agresif dan Dasar Hukumnya

Amerika Serikat akan mengenakan tarif antara 10% hingga 12,5% terhadap lebih dari 80 negara. Pengumuman ini disampaikan oleh Jamieson Greer, Perwakilan Dagang AS, pada Kamis malam. Bea masuk baru ini akan diberlakukan di bawah Pasal 301 Undang-Undang Perdagangan tahun 1974, sebuah ketentuan yang dirancang untuk menindak negara-negara yang terlibat dalam praktik kerja paksa.

Dalam pernyataannya, Greer menegaskan bahwa tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki apa yang disebutnya sebagai pelanggaran hak asasi manusia dan praktik perdagangan yang mendistorsi, demi meningkatkan kesejahteraan pekerja di seluruh dunia. "Saya sangat mendukung mitra dagang yang telah bergerak cepat untuk mengadopsi larangan impor terkait kerja paksa, dan berharap dapat memastikan penegakan yang efektif," ujar Greer, menggarisbawahi komitmen AS terhadap isu ini.

Sejarah Kontroversi dan Tantangan Hukum

Kebijakan tarif Trump sebelumnya telah menghadapi berbagai tantangan dan kritik. Pada bulan Februari, Mahkamah Agung AS memberikan pukulan telak terhadap kebijakan ini dengan memutuskan bahwa banyak dari tarif yang diberlakukan sebelumnya adalah ilegal. Meskipun AS kemudian mengganti tarif tersebut dengan rezim tarif 10% yang berlaku untuk sebagian besar dunia, kebijakan pengganti ini juga dijadwalkan berakhir pada hari Jumat.

Donald Trump dan para pejabatnya secara konsisten mengklaim bahwa agenda perdagangan kontroversialnya akan membantu merevitalisasi pusat-pusat industri AS dan menciptakan lapangan kerja. Namun, kebijakan tarifnya telah menghadapi beberapa kemunduran sejak pertama kali diterapkan. Para kritikus telah berulang kali memperingatkan bahwa tarif yang luas ini berisiko meningkatkan harga di seluruh negeri, membebani konsumen dan bisnis Amerika.

Dampak Potensial Terhadap Inflasi AS

Kekhawatiran akan dampak inflasi menjadi sorotan utama. Inflasi di AS memang melonjak ke level tertinggi dalam tiga tahun pada awal tahun ini. Dalam sebuah sesi tanya jawab yang sengit di hadapan para senator AS pada hari Rabu, Greer tampak membantah bahwa kebijakan tarif Trump telah mendorong kenaikan harga.

Ketika ditanya oleh Senator Demokrat Elizabeth Warren apakah tarif tersebut telah meningkatkan harga bagi keluarga Amerika, Greer dengan tegas menjawab, "Tidak." Ia menambahkan bahwa inflasi inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi, turun menjadi 2,6% secara tahunan, sebuah angka yang dikatakannya lebih baik dari periode sebelumnya. Namun, perlu dicatat bahwa inflasi secara keseluruhan sedikit lebih tinggi dibandingkan saat Joe Biden meninggalkan jabatannya, menunjukkan kompleksitas dinamika harga di ekonomi AS.

Bagi investor ritel di Indonesia, gelombang tarif baru dari AS ini patut dicermati. Kebijakan perdagangan yang memanas dapat memicu ketidakpastian di pasar global, mempengaruhi rantai pasok, dan berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Sebagai negara dengan ekonomi terbuka, Indonesia sangat rentan terhadap gejolak eksternal. Kenaikan biaya impor akibat tarif dapat berdampak pada harga barang di dalam negeri, sementara perlambatan ekonomi global bisa mengurangi permintaan ekspor Indonesia. Investor disarankan untuk tetap berhati-hati, memantau perkembangan geopolitik ekonomi, dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio untuk mengurangi risiko di tengah volatilitas pasar yang mungkin meningkat.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan The Guardian Business.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Ekonomi Global