Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Terkoreksi Dalam 1,88% Imbas Kebijakan Tarif AS dan Lonjakan Minyak

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Jumat, 24 Juli 2026

4 menit
IHSG Terkoreksi Dalam 1,88% Imbas Kebijakan Tarif AS dan Lonjakan Minyak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 1,88% ke 6.196,43 pada Jumat (24/7/2026), didorong sentimen negatif global dari tarif AS dan lonjakan harga minyak.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan akhir pekan pada Jumat (24/7/2026) dengan koreksi signifikan, anjlok nyaris 2% di tengah derasnya tekanan jual yang melanda saham-saham berkapitalisasi besar. Sentimen negatif dari pasar global, terutama terkait kebijakan tarif baru Amerika Serikat dan lonjakan harga minyak dunia, menjadi pemicu utama pelemahan pasar domestik.

Pada penutupan sesi perdagangan, IHSG tercatat melemah 117 poin atau 1,88%, mengakhiri hari di level 6.196,43. Kinerja pasar yang lesu ini mencerminkan dominasi aksi jual, di mana sebanyak 587 saham mengalami penurunan harga. Sementara itu, hanya 104 saham yang berhasil menguat, dan 105 saham lainnya bergerak stagnan. Total nilai transaksi pada hari tersebut mencapai Rp 17,71 triliun, dengan volume perdagangan mencapai 37,84 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,25 juta kali transaksi. Angka-angka ini mengindikasikan tingginya tekanan jual yang telah terasa sejak awal sesi.

Sentimen Global Mencekik Pasar Saham Domestik

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari memburuknya sentimen global. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara resmi memberlakukan tarif impor baru sebesar 10% hingga 12,5% terhadap 60 mitra dagang, termasuk Indonesia. Kebijakan ini segera memicu kembali kekhawatiran akan perang dagang global dan dampaknya terhadap prospek ekonomi dunia, yang pada gilirannya menekan pasar-pasar berkembang.

Selain itu, konflik di Timur Tengah turut memperkeruh suasana dengan mendorong harga minyak mentah Brent melonjak tajam. Harga minyak Brent tercatat menembus US$100,69 per barel, mencapai level tertinggi dalam dua bulan terakhir. Lonjakan harga energi ini menimbulkan kekhawatiran serius akan potensi kenaikan inflasi global. Jika inflasi kembali menguat, bank-bank sentral di seluruh dunia kemungkinan besar akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama, yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dan menekan valuasi aset berisiko seperti saham.

Aksi Jual Investor Asing Hantam Saham Unggulan

Di tengah tekanan eksternal tersebut, investor asing juga tercatat membukukan aksi jual bersih (net foreign sell) yang signifikan di pasar saham Indonesia. Sepanjang sesi pertama perdagangan, nilai jual bersih asing di seluruh pasar mencapai Rp 759,46 miliar. Total transaksi asing pada sesi tersebut mencapai Rp 6,54 triliun, dengan rincian pembelian asing sebesar Rp 2,89 triliun dan penjualan asing sebesar Rp 3,65 triliun.

Aksi jual asing ini secara khusus menargetkan saham-saham berkapitalisasi besar, terutama dari sektor perbankan yang memang sudah menjadi sasaran jual investor asing sejak sehari sebelumnya. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi emiten yang paling banyak dilepas asing, dengan nilai mencapai Rp 386,06 miliar. Tekanan jual juga sangat terasa pada saham-saham lain seperti PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) senilai Rp 142,89 miliar, serta PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) sebesar Rp 123,37 miliar.

Selain itu, beberapa emiten lain yang juga menjadi target penjualan investor asing meliputi PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) dengan nilai Rp 113,07 miliar, PT Petrosea Tbk. (PTRO) Rp 55,68 miliar, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) Rp 43,90 miliar, dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) Rp 43,49 miliar. Saham-saham seperti PT Timah Tbk. (TINS) sebesar Rp 30,17 miliar, PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) Rp 26,34 miliar, dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) Rp 25,73 miliar juga tidak luput dari tekanan jual.

Sektor Perbankan dan Komoditas Jadi Pemberat Utama

Pelemahan IHSG pada hari ini didominasi oleh aksi jual pada saham-saham unggulan, khususnya di sektor perbankan dan komoditas. Hampir seluruh sektor perdagangan mengalami koreksi. Saham-saham seperti BMRI, AMMN, BREN, BRPT, BRMS, dan BUMI secara kolektif menjadi pemberat utama yang menekan kinerja IHSG. Kondisi ini mencerminkan keengganan pelaku pasar untuk mengambil risiko di tengah ketidakpastian global yang meningkat.

Kombinasi antara sentimen eksternal yang memburuk, seperti kebijakan tarif AS dan lonjakan harga minyak, serta berlanjutnya aksi jual pada saham-saham berkapitalisasi besar, terutama di sektor perbankan, membuat pelaku pasar memilih untuk mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Hal ini menyebabkan IHSG menjadi salah satu indeks yang mengalami tekanan cukup dalam pada awal perdagangan hari ini.

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi pasar yang volatil ini menuntut kehati-hatian ekstra. Penting untuk tidak panik dan selalu melakukan analisis mendalam sebelum mengambil keputusan investasi. Fokus pada fundamental perusahaan yang kuat dan memiliki prospek jangka panjang yang baik dapat menjadi strategi yang lebih bijaksana di tengah gejolak pasar. Diversifikasi portofolio juga dapat membantu mengurangi risiko. Memantau perkembangan ekonomi global dan kebijakan moneter bank sentral akan krusial untuk mengantisipasi pergerakan pasar ke depan.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC Indonesia.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham