IHSG Melemah Tajam, Tertekan Geopolitik Timur Tengah dan Harga Minyak
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah signifikan pada Jumat, dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan lonjakan harga minyak mentah global.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup pekan perdagangan dengan pelemahan signifikan pada Jumat. Pergerakan negatif ini tidak terlepas dari sentimen negatif yang melanda bursa saham global, terutama dipicu oleh meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah yang berimbas langsung pada lonjakan harga minyak mentah dunia.
Pada pembukaan perdagangan, IHSG langsung anjlok 48,33 poin atau 0,77 persen, bertengger di level 6.266,98. Senada dengan indeks acuan, kelompok 45 saham unggulan yang tergabung dalam Indeks LQ45 juga mencatatkan penurunan sebesar 6,66 poin atau 1,06 persen, ke posisi 620,46. Tekanan jual yang dominan ini mengindikasikan kekhawatiran investor terhadap prospek ekonomi global di tengah berbagai tantangan yang muncul.
Ketegangan Geopolitik dan Lonjakan Harga Minyak
Pemicu utama pelemahan pasar global datang dari eskalasi ketegangan di Timur Tengah. Kelompok Houthi, yang dilaporkan mendapat dukungan dari Iran, melancarkan serangan terhadap dua kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Insiden ini segera memperburuk gangguan terhadap distribusi minyak global, dengan laporan menunjukkan penurunan lalu lintas kapal di Selat Hormuz mencapai sekitar 75 persen. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital bagi pengiriman minyak dunia.
Menanggapi situasi ini, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengeluarkan peringatan keras, menegaskan bahwa AS akan meminta pertanggungjawaban Iran jika serangan serupa terulang. Ancaman ini semakin memanaskan suasana geopolitik dan menimbulkan kekhawatiran akan potensi konflik yang lebih luas di wilayah tersebut.
Dampak langsung dari ketegangan ini adalah lonjakan harga minyak mentah. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) melonjak lebih dari 6 persen, menembus level 92 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak Brent juga naik lebih dari 6 persen, bahkan menembus angka 100 dolar AS per barel, mencapai level tertinggi sejak awal Juni 2026. Kenaikan harga komoditas energi ini secara otomatis memicu ekspektasi inflasi yang lebih tinggi, yang pada gilirannya memperbesar kemungkinan bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed) AS, untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat atau bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Dampak Global pada Bursa Saham
Sentimen negatif dari Timur Tengah dan kenaikan harga minyak telah merembet ke pasar saham di seluruh dunia. Pada perdagangan Kamis (23/07) sebelumnya, bursa-bursa utama Eropa kompak melemah. Indeks Euro Stoxx 50 turun 1,63 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 0,73 persen, indeks DAX Jerman merosot 1,56 persen, dan indeks CAC 40 Prancis terkoreksi 1,64 persen.
Di Amerika Serikat, Wall Street juga tidak luput dari tekanan jual. Indeks S&P 500 melemah 1,21 persen ke level 7.408,30, indeks Nasdaq Composite turun 1,87 persen ke 25.454,81, dan Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,97 persen ke 51.711,65. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap prospek pertumbuhan ekonomi di tengah ancaman inflasi dan potensi pengetatan kebijakan moneter.
Bursa saham regional Asia juga memulai hari Jumat dengan tren negatif. Indeks Nikkei Jepang melemah 3,12 persen ke 64.351,00, indeks Shanghai China turun 0,55 persen ke 3.855,45, indeks Hang Seng Hong Kong terkoreksi 1,14 persen ke 24.923,72, indeks Kospi Korea Selatan anjlok 3,35 persen ke 6.859,54, dan indeks Strait Times Singapura melemah 0,57 persen ke 5.549,94. Pelemahan yang meluas ini menunjukkan bahwa pasar global bergerak dalam satu irama, merespons perkembangan makroekonomi dan geopolitik yang sama.
Dinamika Ekonomi Domestik dan Prospek IHSG
Dari dalam negeri, data pertumbuhan uang beredar dalam arti luas (M2) menunjukkan perlambatan menjadi 8,7 persen secara tahunan (yoy) pada Juni 2026, turun dari 10,8 persen (yoy) pada Mei 2026. Perlambatan ini mencerminkan pengetatan likuiditas yang disebabkan oleh beberapa faktor, termasuk arus modal keluar, kontraksi Net Foreign Assets (NFA), serta penarikan sementara dana Saldo Anggaran Lebih (SAL) ke Bank Indonesia (BI).
Meskipun demikian, likuiditas diperkirakan akan mulai membaik dalam jangka pendek hingga menengah. Hal ini seiring dengan kembalinya arus modal asing dan penempatan kembali dana SAL ke bank-bank Himbara, yang berpotensi mendorong pertumbuhan M2 dalam beberapa bulan mendatang. Namun, prospek jangka panjang masih dibayangi risiko pengetatan jika The Fed kembali bersikap lebih hawkish, ketegangan geopolitik terus mendorong kenaikan harga minyak, atau pemerintah kembali menarik dana SAL untuk memperkuat ruang fiskal.
Di tengah kondisi pasar yang bergejolak, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memberikan pandangannya. Menurutnya, apabila tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji area support di level 6.262, 6.181, hingga 6.103. Sebaliknya, jika pasar mampu kembali menguat, area resistance berada di 6.377-6.394, kemudian 6.454. Investor perlu mencermati level-level ini sebagai acuan pergerakan IHSG ke depan.
Di sisi lain, Indonesia mencatatkan keberhasilan dalam penerbitan perdana Panda Bond di pasar keuangan China. Penerbitan ini mencatatkan bid-to-cover ratio sebesar 2,4 kali, dengan permintaan investor mencapai sekitar 17 miliar Yuan China, jauh melampaui nilai penerbitan sebesar 7 miliar Yuan China. Ini menunjukkan kepercayaan investor internasional terhadap fundamental ekonomi Indonesia, meskipun di tengah gejolak pasar global.
Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi pasar saat ini menuntut kehati-hatian ekstra. Fluktuasi IHSG yang dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti geopolitik dan harga komoditas global, serta dinamika likuiditas domestik, memerlukan strategi investasi yang adaptif. Disarankan untuk terus memantau perkembangan berita global dan domestik, serta mempertimbangkan diversifikasi portofolio dan manajemen risiko yang cermat. Memahami level-level support dan resistance yang disebutkan oleh analis dapat membantu dalam pengambilan keputusan investasi, baik untuk jangka pendek maupun panjang.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bursa.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.