Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Menguat Tipis, Investor Cermati Kebijakan BI dan Gejolak Global

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Selasa, 21 Juli 2026

4 menit
IHSG Menguat Tipis, Investor Cermati Kebijakan BI dan Gejolak Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat tipis di tengah sikap wait and see investor terhadap keputusan suku bunga BI, sambil mencermati dinamika ekonomi global.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penguatan pada perdagangan Selasa, bergerak naik di tengah kehati-hatian pelaku pasar yang menantikan arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Pada pembukaan perdagangan, IHSG berhasil menguat 41,79 poin atau 0,67 persen, mencapai level 6.273,57. Senada, indeks saham unggulan LQ45 juga mencatatkan kenaikan sebesar 6,25 poin atau 1,00 persen, bertengger di posisi 634,00.

Penguatan ini terjadi saat investor bersikap 'wait and see' menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa dan Rabu (22/7/2026). Salah satu agenda utama RDG adalah penentuan BI-Rate, yang saat ini berada di level 5,75 persen. Sepanjang tahun 2026, BI telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali dengan total 100 basis poin (bps), sebuah langkah yang selalu menjadi perhatian utama pasar modal.

Antisipasi Kebijakan Moneter dan Kinerja Kredit Domestik

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, dalam analisisnya, memperkirakan bahwa IHSG berpotensi menguji level resistance di kisaran 6.250-6.300. Namun, ia juga mengingatkan akan potensi terjadinya aksi ambil untung (profit taking) yang bisa menahan laju penguatan indeks. Keputusan BI terkait suku bunga akan menjadi faktor penentu utama sentimen pasar dalam jangka pendek, mengingat dampaknya terhadap biaya pinjaman, inflasi, dan daya tarik investasi.

Dari sisi ekonomi domestik, hasil Survei Perbankan Bank Indonesia menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam penyaluran kredit baru pada kuartal II 2026. Nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru mencapai 93,08 persen, melonjak tajam dibandingkan 38,74 persen pada kuartal I 2026, dan lebih tinggi dari 85,22 persen pada kuartal II 2025. Peningkatan ini mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi di kuartal kedua tahun ini masih ekspansif, didorong oleh kenaikan permintaan kredit dari berbagai sektor.

  1. Kredit Modal Kerja: Mencatat SBT tertinggi sebesar 94,34 persen.
  2. Kredit Investasi: Mengikuti dengan SBT sebesar 93,51 persen.
  3. Kredit Konsumsi: Mencapai SBT sebesar 83,67 persen.

Meskipun demikian, BI juga mencatat bahwa perbankan menerapkan standar pemberian kredit yang lebih ketat pada kuartal II 2026. Hal ini menunjukkan adanya upaya kehati-hatian dari pihak bank dalam menyalurkan pinjaman, meskipun permintaan kredit sedang tinggi.

Sentimen Global: Konflik, Inflasi, dan Kebijakan Bank Sentral

Di ranah global, pasar dihadapkan pada sejumlah sentimen yang kompleks. Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran menjadi salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak mentah dunia. Meskipun sempat ada harapan penyelesaian diplomatik setelah pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, ketegangan geopolitik ini tetap menambah ketidakpastian pasar. Kekhawatiran investor juga diperparah oleh valuasi saham-saham terkait kecerdasan buatan (AI) yang dinilai sudah terlalu tinggi.

Ratna Lim menyoroti bahwa jika harga minyak bertahan di level tinggi dalam jangka waktu lama, hal itu berpotensi mendorong kenaikan inflasi di AS. Kondisi ini pada gilirannya dapat meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, The Fed, yang tentu akan berdampak pada pasar keuangan global, termasuk Indonesia.

Sementara itu, Bank Sentral China (PBoC) memilih untuk mempertahankan suku bunga pinjaman utamanya pada level terendah sepanjang masa selama 14 bulan berturut-turut, yaitu 3 persen untuk tenor 1 tahun dan 3,5 persen untuk tenor 5 tahun. Keputusan ini diambil meskipun data pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II 2026 menunjukkan perlambatan. PBoC tampaknya lebih cenderung bersikap hati-hati, terutama di tengah konflik yang masih berlangsung di kawasan Timur Tengah.

Dinamika Pasar Global dan Regional

Pergerakan pasar global pada hari sebelumnya juga menunjukkan gambaran yang beragam. Pada perdagangan Senin (20/7/2026), bursa Eropa bergerak variatif: Euro Stoxx 50 melemah 0,10 persen dan indeks FTSE 100 Inggris turun 0,71 persen, sementara indeks DAX Jerman menguat 0,06 persen dan indeks CAC 40 Prancis naik 0,02 persen.

Di sisi lain, bursa Wall Street di AS kompak melemah pada Senin. Indeks S&P 500 turun 0,19 persen ke level 7.443,28, indeks Nasdaq Composite melemah 0,05 persen ke 25.508,07, dan Dow Jones Industrial Average merosot 0,59 persen ke 51.839,26. Pagi ini, bursa saham regional Asia juga menunjukkan pergerakan yang beragam, dengan beberapa indeks menguat dan lainnya melemah.

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi pasar saat ini menuntut kehati-hatian dan strategi yang terukur. Keputusan BI terkait suku bunga akan menjadi katalis penting yang dapat memengaruhi pergerakan IHSG dalam waktu dekat. Selain itu, dinamika ekonomi global, terutama terkait harga minyak dan kebijakan bank sentral utama, perlu terus dicermati karena dapat menciptakan volatilitas. Investor disarankan untuk tetap fokus pada fundamental emiten yang kuat dan melakukan diversifikasi portofolio untuk menghadapi ketidakpastian yang ada.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bursa.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham