Memuat data pasar…
Global Ekonomi Global

Ancaman Tarif Trump dan Kenaikan Saham Pertahanan Inggris Warnai Dinamika Pasar Global

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Selasa, 21 Juli 2026

4 menit
Ancaman Tarif Trump dan Kenaikan Saham Pertahanan Inggris Warnai Dinamika Pasar Global

Pasar global diwarnai kenaikan saham pertahanan Inggris pasca penunjukan kanselir baru, sementara ancaman tarif Donald Trump ke Kanada memicu kekhawatiran perang dagang.

Pergerakan Saham Pertahanan Inggris dan Harapan Belanja Militer

Indeks saham acuan Inggris, FTSE 100, memulai perdagangan pagi ini dengan sedikit pelemahan sebesar 0,3%. Namun, di tengah tren tersebut, beberapa saham perusahaan pertahanan besar justru menunjukkan penguatan signifikan. Babcock International melonjak 4%, BAE Systems naik 2,4%, dan Qinetiq di indeks FTSE 250 menguat 3,5%.

Kenaikan ini dipicu oleh antusiasme investor menyusul penunjukan John Healey, mantan Menteri Pertahanan, sebagai Kanselir Keuangan yang baru. Para pelaku pasar berharap Healey akan memanfaatkan posisinya untuk meningkatkan belanja pertahanan negara, bahkan mungkin melalui penerbitan “obligasi pertahanan” – sebuah instrumen utang yang secara khusus dialokasikan untuk sektor militer, yang sebelumnya pernah ia advokasi.

Meski demikian, Chris Beauchamp, kepala analis pasar di broker IG, mengingatkan bahwa penunjukan Healey tidak serta-merta menjamin gelontoran dana besar untuk pertahanan. Sebagai Kanselir, ia akan menghadapi berbagai tuntutan anggaran yang bersaing dari sektor lain, dan tidak hanya akan menjadi perwakilan Kementerian Pertahanan di pemerintahan. Pengalaman Healey memang menjadikannya kandidat yang kuat, namun mencari dana tambahan yang signifikan untuk pertahanan akan menjadi tantangan, terutama di tengah komitmen belanja perdana menteri baru di berbagai area lain.

Inflasi Pangan Inggris Mereda, Namun Biaya Hidup Tetap Tinggi

Kabar baik datang dari sektor biaya hidup di Inggris, di mana inflasi harga bahan makanan menunjukkan penurunan. Dalam empat minggu hingga 12 Juli, inflasi bahan makanan melambat menjadi 2,6%, menandai laju terendah sejak akhir tahun lalu. Ini merupakan bulan kelima berturut-turut di mana kenaikan harga melambat, demikian temuan Worldpanel by Numerator.

Fraser McKevitt, kepala riset ritel dan konsumen di Worldpanel, menyatakan bahwa meredanya kenaikan harga ini tentu disambut baik oleh para pembeli. Namun, ia juga mengingatkan bahwa gambaran keseluruhan biaya hidup masih menunjukkan tantangan. Rata-rata rumah tangga menghabiskan £5.530 untuk bahan makanan selama dua belas bulan terakhir hingga Juli, naik £156 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka ini menjadi pengingat bahwa meskipun laju inflasi mendingin, biaya kumulatif belanja mingguan terus meningkat.

Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa cuaca cerah dan gelaran Piala Dunia turut mendongkrak penjualan bahan makanan musim panas ini. Konsumen Inggris melakukan 497 juta kunjungan belanja selama empat minggu tersebut, rata-rata 17 kunjungan per rumah tangga, angka tertinggi sejak Maret 2020. Pembelian bir atau cider naik 8% secara tahunan, sementara minuman non-alkohol juga naik 10%. Pengeluaran untuk burger melonjak 25%, es loli naik 17%, dan air minum kemasan naik 23%. Turnamen Wimbledon juga memberikan dorongan, dengan £77 juta dihabiskan untuk stroberi dan £21 juta untuk krim.

Dinamika Korporasi Inggris: Penyelamatan Thames Water dan Akuisisi Mitie

Di ranah korporasi, sekelompok investor yang berupaya menyelamatkan Thames Water, perusahaan air terbesar di Inggris, telah menawarkan “golden share” kepada pemerintah. Tawaran ini merupakan upaya terakhir untuk meyakinkan perdana menteri baru agar tidak menasionalisasi perusahaan tersebut. London & Valley Water (L&VW), sebuah konsorsium yang terdiri dari 100 investor institusional yang memegang £17 miliar dari total utang perusahaan sebesar £21 miliar, menyatakan pengakuannya atas keinginan pemerintah untuk kontrol publik yang lebih besar dan peningkatan akuntabilitas perusahaan air.

Konsorsium tersebut bersedia membuat komitmen signifikan untuk memberikan kontrol dan pengawasan yang lebih besar kepada para menteri melalui “golden share”, yang akan memberikan hak veto kepada pemerintah atas keputusan penting dan upaya pengambilalihan yang tidak bersahabat. Mereka percaya ada peluang untuk meningkatkan kolaborasi antara pemerintah daerah, regulator, dan Thames Water guna meningkatkan proyek infrastruktur penting.

Sementara itu, di sektor lain, perusahaan penyedia layanan outsourcing Mitie telah menyetujui tawaran akuisisi senilai £3,1 miliar oleh pesaingnya, OCS Group, yang dimiliki oleh perusahaan ekuitas swasta. Dewan direksi Mitie merekomendasikan pemegang saham untuk menerima tawaran tunai 221,6 pence per saham, yang merupakan premium 44,7% dari harga penutupan hari sebelumnya. Mitie, yang didirikan pada tahun 1987 dan mempekerjakan 84.000 staf, berspesialisasi dalam manajemen fasilitas seperti pemeliharaan teknik, kebersihan, dan keamanan.

Ancaman Tarif Trump ke Kanada Picu Kekhawatiran Perang Dagang

Dari arena geopolitik ekonomi, Donald Trump telah mengumumkan niatnya untuk memberlakukan tarif sebesar 50% pada sebagian besar barang Kanada. Langkah ini merupakan respons terhadap tindakan balasan Kanada terhadap tarif AS sebelumnya. Gedung Putih menyatakan bahwa tarif baru ini akan memukul berbagai produk, termasuk anggur, stik hoki, dan semen. Bahkan, beberapa barang yang sebelumnya dilindungi dari pajak impor di bawah perjanjian Amerika Serikat-Meksiko-Kanada (USMCA) juga akan terkena dampaknya.

Namun, beberapa kategori produk akan dikecualikan dari tarif baru ini, seperti produk energi, ikan, mineral penting, dan potas. Produk-produk yang sudah dikenakan tarif dengan alasan keamanan nasional, seperti baja dan aluminium, juga tidak akan terpengaruh. Ancaman tarif ini berpotensi memicu eskalasi ketegangan perdagangan antara dua negara tetangga tersebut, menambah ketidakpastian dalam lanskap ekonomi global.

Bagi investor ritel di Indonesia, perkembangan ekonomi global ini perlu dicermati dengan seksama. Ancaman tarif dari Donald Trump dapat meningkatkan ketidakpastian pasar global dan memicu sentimen negatif, yang pada gilirannya bisa memengaruhi pasar saham dan komoditas di Indonesia. Di sisi lain, meredanya inflasi di negara maju seperti Inggris bisa menjadi sinyal positif bagi kebijakan moneter global, meskipun juga bisa mengindikasikan perlambatan permintaan. Investor disarankan untuk tetap waspada, melakukan diversifikasi portofolio, dan fokus pada fundamental perusahaan yang kuat untuk menghadapi potensi volatilitas pasar global.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan The Guardian Business.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Ekonomi Global