Tantangan Likuiditas Bank Digital: Saat Allo Bank Ngebut Bergeser ke Kredit dan Krom Bank Perkuat Dana Murah
Sektor bank digital hadapi tantangan likuiditas di tengah ekspansi kredit yang agresif. Simak strategi Allo Bank dan Krom Bank menjaga LDR dan struktur pendanaan.
Industri perbankan digital di tanah air terus menunjukkan geliat ekspansi yang sangat agresif dalam memacu penyaluran pembiayaan. Kendati demikian, laju pertumbuhan bisnis yang kencang ini tidak luput dari ujian klasik di sektor keuangan, yakni tantangan likuiditas. Di sejumlah bank digital terkemuka, laju penyaluran kredit tercatat masih melaju jauh lebih cepat ketimbang kemampuan penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Kondisi tersebut membuat rasio loan to deposit ratio (LDR) di sebagian pemain tetap berada di level yang cukup tinggi. Meskipun kredit dan DPK sama-sama menunjukkan tren kenaikan positif, pengelolaan strategi pendanaan menjadi kunci utama bagi para emiten bank digital untuk menjaga keseimbangan antara ekspansi bisnis dan kesehatan neraca keuangan.
Strategi Allo Bank Jaga LDR di Tengah Ekspansi Kredit Tinggi
PT Allo Bank Indonesia Tbk misalnya, mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit yang sangat impresif hingga paruh pertama tahun ini. Berdasarkan catatan perusahaan, posisi kredit Allo Bank menyentuh angka Rp 10,13 triliun per Mei 2026, yang berarti melesat 38,6% secara tahunan atau year-on-year (yoy).
Di sisi lain, perolehan DPK tercatat tumbuh lebih moderat di kisaran 7,75% yoy menjadi Rp 6,17 triliun. Dinamika ini membuat rasio LDR Allo Bank mengalami kenaikan dari 127,4% pada periode tahun sebelumnya menjadi 163,9% per Mei 2026.
Digital Strategy Head Allo Bank Destya D. Pradityo menjelaskan bahwa tingginya angka LDR tersebut merupakan konsekuensi logis dari langkah ekspansi bisnis yang masif. Kendati demikian, manajemen memastikan bahwa ekspansi ini tetap ditopang oleh permodalan yang kuat, pengelolaan likuiditas yang disiplin, serta kualitas aset yang terjaga ketat. Ke depan, perusahaan berkomitmen untuk menyalurkan pembiayaan secara selektif dan terukur.
Perkuat Dana Murah Lewat Integrasi Ekosistem Digital
Menghadapi tantangan likuiditas industri yang kian ketat akibat dinamika suku bunga dan ketidakpastian global, Allo Bank tidak tinggal diam. Perusahaan terus memutar otak untuk memperkuat struktur pendanaan yang lebih berkelanjutan, salah satunya melalui perburuan porsi dana murah atau current account saving account (CASA).
Upaya tersebut ditempuh lewat peningkatan frekuensi transaksi nasabah, pengembangan layanan pembayaran digital yang komprehensif, penyediaan layanan payroll, hingga penguatan integrasi ekosistem bisnis. Melalui berbagai inovasi ini, likuiditas perusahaan diyakini akan tetap terjaga seiring dengan berjalannya pengelolaan risiko yang disiplin sepanjang tahun berjalan.
Pendekatan Berbeda di Krom Bank Indonesia
Di sisi lain, dinamika yang sedikit berbeda tercatat pada PT Krom Bank Indonesia Tbk. Hingga Mei 2026, Krom Bank berhasil membukukan pertumbuhan pembiayaan dan pendanaan yang sama-sama melompat tinggi. Penyaluran kredit Krom Bank menembus angka Rp 10,76 triliun atau meroket 80,8% yoy, sementara perolehan DPK melonjak jauh lebih kencang hingga 124% yoy menjadi Rp 11,84 triliun.
Laju pertumbuhan dana pihak ketiga yang melampaui ekspansi kredit tersebut membuat rasio LDR Krom Bank justru melandai ke level 90,8%, turun signifikan dari posisi 112,5% pada periode yang sama tahun lalu.
Presiden Direktur Krom Bank Anton Hermawan menilai bahwa peta persaingan dalam menghimpun dana masyarakat di industri perbankan kini telah bergeser. Para pelaku usaha tidak lagi semata-mata mengandalkan perang suku bunga tinggi untuk menarik nasabah, melainkan menitikberatkan pada efisiensi struktur pendanaan dan manajemen likuiditas yang matang.
Bidik Nasabah Melek Digital untuk Efisiensi Biaya Dana
Demi menjaga efisiensi cost of fund di tengah era suku bunga acuan yang masih tinggi, Krom Bank secara konsisten memperbesar porsi dana murah. Strategi penghimpunan dana tersebut difokuskan secara spesifik dengan menyasar segmen nasabah berusia di bawah 40 tahun yang memiliki tingkat literasi digital tinggi, serta kelompok masyarakat yang telah mapan secara finansial.
Segmen tersebut dinilai sangat potensial karena memiliki tingkat adopsi layanan digital banking yang jauh lebih baik. Dengan ekosistem digital yang ramah pengguna dan pendekatan yang tepat sasaran, bank digital berharap mampu mengamankan sumber likuiditas yang stabil guna menopang ekspansi jangka panjang di tengah ketatnya persaingan industri keuangan.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.