Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Melesat 1,1% Didorong Saham Bank Jumbo dan Kebijakan BI

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Jumat, 17 Juli 2026

3 menit
IHSG Melesat 1,1% Didorong Saham Bank Jumbo dan Kebijakan BI

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,1% didorong saham perbankan besar, didukung sentimen positif dari kebijakan Bank Indonesia terkait stabilisasi rupiah dan likuiditas pasar.

IHSG Melesat Didukung Sektor Keuangan dan Volume Transaksi

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa impresif pada perdagangan Jumat, 17 Juni 2026, ditutup menguat signifikan sebesar 1,1%. Kenaikan 67,32 poin ini membawa IHSG bertengger di level 6.173,53, dengan mayoritas emiten berada di zona hijau. Tercatat, 363 emiten mengalami kenaikan harga saham, sementara 274 emiten melemah, dan 328 lainnya tidak bergerak.

Aktivitas pasar juga terlihat lebih bergairah dibandingkan periode sebelumnya. Total nilai transaksi harian mencapai Rp 16,32 triliun, jauh melampaui rata-rata transaksi harian yang sebelumnya sulit menembus Rp 15 triliun, bahkan seringkali hanya berkisar Rp 10 triliun. Volume perdagangan mencapai 24,04 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,99 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turut merangkak naik, mencapai Rp 10.749 triliun, mencerminkan peningkatan kepercayaan investor terhadap pasar modal domestik.

Sektor finansial menjadi motor utama penguatan IHSG hari itu, dengan kenaikan mencapai 3,2%. Kontribusi terbesar datang dari emiten-emiten perbankan berkapitalisasi pasar besar atau “jumbo”. Saham-saham seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), dan Bank Negara Indonesia (BBNI) secara kolektif menyumbang 54,7 poin terhadap kenaikan IHSG, menegaskan dominasi mereka dalam pergerakan indeks.

Katalis Positif dari Rebound Teknikal dan Fundamental Perbankan

Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, mengidentifikasi beberapa faktor yang mendorong penguatan saham-saham perbankan belakangan ini. Menurutnya, sektor perbankan sedang mengalami technical rebound setelah sebelumnya menghadapi tekanan jual yang cukup signifikan. Kondisi ini memicu investor untuk kembali melakukan akumulasi, terutama pada saham-saham bank besar yang dikenal memiliki fundamental kuat dan likuiditas tinggi.

Selain itu, tekanan arus keluar dana asing (foreign outflow) mulai menunjukkan tanda-tanda mereda, terlihat lebih terbatas dibandingkan periode sebelumnya. Situasi ini menciptakan ruang bagi investor untuk kembali masuk ke saham-saham big caps perbankan, yang pada gilirannya memperbaiki sentimen pasar secara keseluruhan. Dari sisi fundamental, ekspektasi terhadap perbaikan likuiditas, potensi pemulihan pertumbuhan kredit, serta valuasi saham bank yang semakin menarik menjadi katalis tambahan yang memperkuat daya tarik sektor ini.

Elandry juga menyoroti sentimen positif terkait kebijakan High Shareholding Concentration (HSC) yang memberikan persepsi positif terhadap peningkatan transparansi dan kualitas pasar modal Indonesia. Namun, ia mengingatkan investor untuk tetap mencermati faktor eksternal seperti arah suku bunga global, pergerakan nilai tukar rupiah, dan keberlanjutan aliran modal asing guna menilai apakah penguatan sektor perbankan ini dapat berlanjut dalam jangka panjang.

Kebijakan Bank Indonesia Perkuat Sentimen Pasar dan Rupiah

Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menambahkan bahwa penguatan saham perbankan juga dipengaruhi oleh respons positif investor terhadap pernyataan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, dalam CNBC Indonesia Investment Forum 2026. Destry menegaskan komitmen BI untuk menjamin bank-bank di Indonesia tidak akan menanggung kerugian BI dalam skema stabilisasi rupiah, sebuah pernyataan yang disambut baik oleh investor.

Dalam forum tersebut, Destry menjelaskan langkah-langkah BI dalam upaya stabilisasi rupiah dan pendalaman pasar keuangan domestik. Sejak April 2026, BI telah aktif masuk ke pasar Non-Deliverable Forward (NDF) offshore selama 24 jam sehari, enam hari seminggu, dengan memanfaatkan kantor-kantor perwakilan di luar negeri seperti Singapura, Hong Kong, dan New York untuk memantau dan melakukan intervensi.

Selain itu, BI juga memberikan pengecualian atas larangan transaksi NDF jual valas terhadap rupiah di pasar luar negeri (offshore) bagi dealer utama Pasar Uang dan Pasar Valuta Asing (PUVA) tertentu yang memenuhi syarat. Kebijakan ini bersifat sukarela dan ditujukan untuk mendukung stabilitas nilai tukar rupiah. Destry juga mengungkapkan bahwa BI memperluas instrumen operasi moneter valas dengan instrumen spot dan swap dalam valuta Offshore Chinese Renminbi (CNH) terhadap rupiah, menunjukkan upaya komprehensif BI dalam menjaga stabilitas moneter dan memperdalam pasar keuangan.

Bagi investor ritel di Indonesia, penguatan IHSG yang didorong oleh sektor perbankan dan dukungan kebijakan Bank Indonesia ini dapat menjadi sinyal positif. Namun, penting untuk tetap melakukan analisis mendalam dan tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi. Perhatikan fundamental emiten, valuasi saham, serta perkembangan makroekonomi global dan domestik, termasuk arah suku bunga dan pergerakan rupiah, untuk memastikan keputusan investasi yang bijak dan berkelanjutan.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC Indonesia.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham