Produksi Emas Amman Mineral Diprediksi Meningkat 16,1 Ton pada 2026
Amman Mineral menargetkan produksi emas mencapai 16,1 ton hingga akhir 2026, naik dibandingkan realisasi produksi emas pada 2025
PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memiliki target produksi emas yang ambisius, yaitu mencapai 16,1 ton hingga akhir 2026. Target ini meningkat dibandingkan dengan realisasi produksi emas pada 2025 yang berada di level 3,879 ton.
Target Produksi Emas dan Mineral Lainnya
Presiden Direktur AMNT, Rachmat Makkasau, menyatakan bahwa perusahaan berencana memproduksi sekitar 162 ribu ton katoda tembaga, sekitar 16 ton emas, dan 45 ton perak hingga akhir 2026. Selain itu, Amman juga berencana untuk memproduksi 91 dry metric ton (DMT) selenium, 1,96 DMT telurium, serta 572 DMT asam sulfat.
Proyeksi Produksi ke Depan
Angka produksi tersebut diperkirakan akan terus meningkat hingga tiga tahun ke depan. Misalkan, produksi emas pada 2027 direncanakan meningkat hingga menjadi 28,677 ton; kemudian naik menjadi 31,881 ton pada 2028; sebelum mengalami penurunan menjadi 30,51 ton pada 2029. Sementara itu, untuk produksi katoda tembaga diperkirakan akan naik menjadi 310 ribu ton pada 2027, kemudian mengalami penurunan pada 2028 menjadi 295 ribu ton, dan turun menjadi 257 ribu ton pada 2029.
Tools Analisa dan Screening Saham Dalam hitungan detik R-IDX Terminal
Strategi Penjualan dan Ekspor
Mulai tahun depan, Amman Mineral akan lebih banyak memproses mengambil ore pada proses penambangan. Keseluruhan produk prioritas utama adalah penjualan ke domestik. Meskipun demikian, perusahaan tidak menutup kemungkinan bahwa ke depannya Amman Mineral akan melakukan ekspor, terutama untuk katoda tembaga.
Implikasi Bagi Investor
Bagi investor ritel Indonesia, target produksi emas yang ambisius dari Amman Mineral dapat menjadi pertimbangan dalam memilih saham yang tepat. Dengan proyeksi produksi yang meningkat, perusahaan ini berpotensi menjadi salah satu pemain utama di industri pertambangan Indonesia. Namun, investor juga perlu mempertimbangkan faktor-faktor lain seperti harga komoditas, biaya produksi, dan regulasi pemerintah sebelum membuat keputusan investasi.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bisnis.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.