Pertumbuhan Kredit Perbankan Indonesia Diproksikan Mencapai 10 Persen
OJK berharap pertumbuhan kredit perbankan bisa melampaui 10 persen pada akhir 2026 didukung likuiditas dan suku bunga terkendali
Pertumbuhan kredit perbankan Indonesia diproyeksikan mencapai di atas 10 persen pada akhir tahun 2026. Hal ini didukung oleh kondisi likuiditas yang kuat dan suku bunga yang terkendali. Menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, pertumbuhan kredit ini akan menjadi lebih baik jika likuiditas perbankan tetap memadai dan suku bunga kredit terkendali.
Pertumbuhan Kredit dan Likuiditas Perbankan
Kondisi likuiditas perbankan saat ini tidak menjadi persoalan karena keputusan pemerintah untuk tidak menarik dana saldo anggaran lebih (SAL) yang ditempatkan di bank-bank anggota Himbara. Bahkan, likuiditas di perbankan diperkirakan akan meningkat. Dengan demikian, risiko likuiditas dinilai sangat rendah.
Pertumbuhan kredit terus menunjukkan tren positif secara tahunan. Pada Mei 2026, kredit perbankan tercatat tumbuh 11,51 persen menjadi sebesar Rp8.918 triliun. Pertumbuhan ini lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 9,98 persen.
Suku Bunga Kredit dan Dampaknya
OJK memperkirakan tingkat suku bunga kredit akan lebih terkendali seiring dengan kondisi dana pihak ketiga (DPK) yang diperkirakan tetap stabil. Meski Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate), dampaknya terhadap penyesuaian suku bunga kredit tidak akan terjadi secara langsung.
Menurut Dian, perbankan membutuhkan waktu untuk menyesuaikan suku bunga kredit pasca BI-Rate. Penyesuaian ini akan berlangsung beberapa bulan untuk menghindari masalah ke debitur.
Proyeksi Pertumbuhan Kredit dan DPK
OJK sendiri memproyeksikan pertumbuhan kredit pada 2026 mencapai kisaran 10-12 persen secara tahunan. Sementara DPK diproyeksikan tumbuh sebesar 7-9 persen. Pada Mei 2026, DPK tumbuh sebesar 13,49 persen menjadi Rp10.294 triliun.
Dampak Bagi Investor Ritel
Pertumbuhan kredit perbankan yang diproyeksikan mencapai di atas 10 persen pada akhir 2026 dapat berdampak positif bagi investor ritel. Hal ini karena pertumbuhan kredit yang kuat dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memicu pertumbuhan ekonomi. Namun, investor ritel perlu memantau kondisi likuiditas dan suku bunga kredit untuk mengambil keputusan investasi yang tepat.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Finansial.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.