Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

Perbankan Menengah Hadapi Tekanan Likuiditas, Potensi Perang Bunga Deposito Menguat

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Rabu, 22 Juli 2026

3 menit
Perbankan Menengah Hadapi Tekanan Likuiditas, Potensi Perang Bunga Deposito Menguat

Sektor perbankan Indonesia menghadapi tantangan likuiditas ketat, terutama bank KBMI II dan III, memicu potensi perang bunga deposito yang menekan margin keuntungan.

Kondisi likuiditas di sektor perbankan Indonesia saat ini menunjukkan tanda-tanda ketat, sebuah dinamika yang erat kaitannya dengan tren kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate). Situasi ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan ekonom, terutama terkait potensi munculnya persaingan ketat dalam penghimpunan dana masyarakat, yang sering disebut sebagai 'perang bunga'.

M. Rizal Taufikurahman, Kepala Center of Macroeconomics and Finance Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), menyoroti bahwa bank-bank di Kelompok Bank berdasarkan Modal Inti (KBMI) II dan III merasakan tekanan likuiditas yang signifikan. Menurutnya, keluhan dari kelompok bank menengah ini mengindikasikan adanya peningkatan kompetisi untuk menarik dana dari publik. Kondisi ini berpotensi besar memicu kenaikan suku bunga deposito secara agresif antar-bank.

Tekanan Likuiditas dan Persaingan Dana di Perbankan

Apabila skenario 'perang bunga' ini benar-benar terjadi, bank-bank, khususnya yang memiliki basis dana murah (Current Account, Saving Account/CASA) yang terbatas, akan menjadi pihak yang paling dirugikan. Peningkatan biaya dana (cost of fund) akan menjadi tak terhindarkan, yang pada gilirannya akan menekan margin bunga bersih (Net Interest Margin/NIM) mereka. Konsekuensinya, ruang bagi bank-bank KBMI II dan III untuk menurunkan suku bunga kredit akan semakin sempit, bahkan bisa hilang sama sekali.

Rizal menekankan bahwa tantangan bagi pemerintah dan otoritas moneter ke depan tidak hanya terbatas pada menjaga stabilitas moneter. Lebih dari itu, mereka juga harus memastikan likuiditas perbankan tetap memadai agar fungsi intermediasi perbankan, yaitu menyalurkan dana dari penabung ke peminjam, tidak terganggu. Ketersediaan likuiditas yang cukup adalah kunci bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Distribusi Likuiditas yang Tidak Merata

Di sisi lain, Josua Pardede, Chief Economist Bank Permata, memberikan perspektif yang sedikit berbeda. Menurutnya, permasalahan utama perbankan saat ini bukanlah kekurangan likuiditas secara keseluruhan, melainkan distribusi likuiditas yang belum merata antar-bank. Bank-bank besar yang termasuk dalam KBMI IV cenderung memiliki posisi yang lebih kuat. Keunggulan ini didukung oleh basis dana murah yang luas dan ekosistem transaksi yang lebih mapan.

Sebaliknya, bank-bank menengah (KBMI II-III) lebih rentan dan sensitif terhadap perpindahan dana dari deposan besar. Josua mengamati bahwa indikasi 'perang bunga' memang mulai muncul, namun sifatnya masih selektif dan belum meluas menjadi fenomena besar di seluruh industri perbankan. Data simpanan per kelompok KBMI per Mei 2026 menunjukkan konsentrasi dana yang sangat tinggi di bank-bank besar. KBMI IV tercatat menguasai simpanan sebesar Rp5.550,8 triliun, jauh melampaui total simpanan di KBMI I, KBMI II, dan KBMI III.

Dampak pada Margin Keuntungan dan Bunga Kredit

Dalam kondisi suku bunga acuan yang terus meningkat, serta instrumen investasi seperti Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) ritel yang menawarkan kupon tinggi, deposan besar menjadi semakin sensitif terhadap imbal hasil. Fenomena ini memaksa bank-bank menengah untuk menawarkan suku bunga deposito yang lebih kompetitif guna mempertahankan basis dana mereka. Peningkatan biaya dana ini secara langsung akan menggerus margin keuntungan bank dan membatasi kemampuan mereka untuk menawarkan suku bunga kredit yang lebih rendah kepada nasabah.

Situasi ini menciptakan dilema bagi bank-bank menengah: di satu sisi mereka harus bersaing ketat untuk dana, di sisi lain mereka harus menjaga profitabilitas dan kemampuan untuk menyalurkan kredit. Keseimbangan antara kedua hal ini menjadi krusial dalam menjaga kesehatan finansial bank-bank tersebut.

Implikasi bagi Investor Ritel dan Sektor Keuangan

Bagi investor ritel di Indonesia, dinamika ini membawa beberapa implikasi penting. Pertama, bagi mereka yang menempatkan dana di deposito, potensi 'perang bunga' bisa berarti penawaran suku bunga yang lebih menarik, terutama dari bank-bank KBMI II dan III yang berupaya keras menarik dana. Namun, investor juga perlu mencermati kesehatan finansial bank tersebut. Kedua, bagi investor saham, khususnya di sektor perbankan, penting untuk membedakan antara kinerja bank-bank besar (KBMI IV) yang cenderung lebih resilient dengan bank-bank menengah (KBMI II-III) yang mungkin menghadapi tekanan margin lebih besar. Analisis terhadap rasio CASA, NIM, dan strategi penghimpunan dana menjadi sangat relevan. Pergerakan saham emiten perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, atau BBNI mungkin akan lebih stabil dibandingkan emiten bank dengan modal inti lebih kecil, yang berpotensi menghadapi volatilitas lebih tinggi akibat tekanan likuiditas dan persaingan bunga. Investor disarankan untuk melakukan riset mendalam dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio untuk menghadapi ketidakpastian di pasar.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC Indonesia.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham