Laporan Terobosan Chip Tiongkok Guncang Saham Semikonduktor Global, Dominasi ASML Diuji
Pasar semikonduktor global bergejolak setelah laporan Tiongkok memproduksi mesin DUV, memicu pertanyaan tentang dominasi ASML dan implikasi bagi rantai pasok.
Saham ASML, raksasa teknologi Belanda, mengalami penurunan pada perdagangan Selasa menyusul laporan yang mengindikasikan bahwa Tiongkok telah memulai produksi massal alat penting yang selama ini menjadi monopoli perusahaan tersebut. Penurunan ini terjadi di tengah aksi jual tajam pada saham-saham semikonduktor global, seiring investor terus bergulat dengan ketidakpastian di sektor vital ini. Meskipun demikian, para analis menyarankan agar laporan tersebut disikapi dengan hati-hati, mengingat adanya sejumlah tantangan signifikan yang mungkin dihadapi Tiongkok.
Klaim Terobosan Tiongkok dan Reaksi Pasar
Menurut laporan dari The Information pada Senin, sebuah perusahaan Tiongkok yang tidak disebutkan namanya telah memulai pembuatan mesin litografi ultraviolet dalam (DUV) imersi. Alat ini, yang krusial untuk mengukir pola sirkuit pada wafer silikon, diperkirakan akan dikirimkan tahun ini kepada produsen chip terbesar di Tiongkok, termasuk Semiconductor Manufacturing International Corp. (SMIC) dan Changxin Memory Technologies (CXMT).
Kabar ini memicu kekhawatiran di kalangan investor bahwa jika Tiongkok terus mengembangkan teknologi semikonduktornya secara mandiri, hal itu berpotensi membatasi akses perusahaan-perusahaan besar dari Amerika Serikat, Eropa, dan Asia lainnya ke pasar Tiongkok yang sangat besar. Mesin DUV imersi digunakan untuk memproduksi chip dengan teknologi yang kurang canggih. Berbeda dengan mesin litografi ultraviolet ekstrem (EUV) yang digunakan untuk chip paling mutakhir, seperti yang dirancang oleh Apple dan Nvidia, ASML saat ini mendominasi pasar untuk kedua jenis alat litografi tersebut, DUV maupun EUV.
Skeptisisme Analis: Tantangan Kualitas dan Skala Produksi
Meskipun laporan mengenai masuknya Tiongkok ke pasar yang didominasi ASML menimbulkan kekhawatiran, para analis meragukan bahwa perkembangan ini akan secara signifikan menggoyahkan dominasi perusahaan Belanda tersebut. Stephane Houri, kepala riset ekuitas di ODDO BHF, menyarankan untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan, mengingat produksi Tiongkok kemungkinan besar terbatas pada segmen chip paling rendah.
Salah satu faktor kunci yang menjadi fokus produsen semikonduktor adalah 'yield', yaitu jumlah chip yang dapat digunakan dari proses produksi. Semua pabrik bertujuan untuk mencapai yield maksimum. Saat ini, belum jelas apakah produsen Tiongkok yang menggunakan mesin DUV buatan sendiri dapat menghasilkan yield chip yang mendekati atau melebihi mesin ASML. Jika yield-nya tidak sebanding, hal itu dapat menghambat adopsi mesin Tiongkok. Nick Patience, pemimpin AI di Futurum Group, menekankan bahwa Tiongkok tidak hanya perlu memiliki alat yang berfungsi, tetapi juga harus mencapai paritas yield. Ia menambahkan bahwa mesin DUV impor yang digunakan oleh SMIC, produsen chip terbesar Tiongkok, masih jauh lebih buruk daripada yang digunakan oleh TSMC di Taiwan, menunjukkan tantangan besar dalam hal keandalan dan kualitas.
Jalan Panjang Menuju Persaingan Global
Tantangan lain bagi Tiongkok adalah kemampuan untuk meningkatkan skala produksi mesin-mesin ini. Laporan menyebutkan bahwa perusahaan Tiongkok yang mengembangkan alat DUV menargetkan produksi lima unit tahun ini dan sekitar 20 unit pada tahun 2027. Sebagai perbandingan, ASML berencana untuk mencapai kapasitas sekitar 130 mesin DUV imersi pada tahun 2026, dan berencana menambah 30% pada tahun 2027. Perbedaan kapasitas produksi ini sangat mencolok, menunjukkan betapa jauhnya Tiongkok dari kemampuan ASML dalam hal volume.
Para analis dari SemiAnalysis juga menyoroti berbagai faktor yang menghambat Tiongkok, termasuk kinerja alat, skala produksi mesin itu sendiri, kinerja armada, ekosistem pendukung, dan ekonomi yang kurang menguntungkan dibandingkan dengan mesin ASML yang sudah terdepresiasi penuh. Mereka menekankan bahwa skala produksi mesin itu sendiri adalah bagian yang paling diremehkan. Selain itu, perlu diingat bahwa ASML sudah dibatasi untuk menjual beberapa alat DUV imersi kepada perusahaan Tiongkok karena pembatasan ekspor. Oleh karena itu, alat DUV yang diproduksi Tiongkok mungkin hanya menggantikan pendapatan yang sudah hilang bagi ASML akibat kontrol ekspor.
Mengenai teknologi EUV yang lebih canggih, para analis menilai bahwa pencapaian di DUV tidak serta-merta berarti Tiongkok akan mampu menguasai EUV. ASML membutuhkan waktu sekitar dua dekade dan investasi riset dan pengembangan sekitar 10 miliar dolar AS, serta investasi bersama dari perusahaan seperti Intel, TSMC, dan Samsung, untuk membuat EUV layak secara komersial. Teknologi EUV baru menjadi menguntungkan secara skala sekitar tahun 2018-2019. Paul Triolo, mitra di DGA Albright Stonebridge Group, menjelaskan bahwa meskipun ada beberapa terobosan DUV yang dapat diterapkan pada teknologi EUV, banyak aspek lain seperti sumber cahaya dan optik EUV jauh lebih maju dan kompleks, membutuhkan banyak rintangan teknologi tambahan untuk diatasi.
Bagi investor ritel di Indonesia, perkembangan di sektor semikonduktor global ini patut dicermati. Dinamika persaingan teknologi antara Tiongkok dan Barat, serta ketahanan rantai pasok global, dapat memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan, termasuk pasar modal Indonesia. Perusahaan-perusahaan teknologi lokal atau yang memiliki keterkaitan dengan rantai pasok global mungkin merasakan dampaknya, baik dari sisi pasokan maupun permintaan. Oleh karena itu, diversifikasi portofolio dan pemahaman mendalam tentang fundamental perusahaan menjadi semakin penting di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC International.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.