Regulasi Eropa Dorong Inovasi Kemasan Kertas Bebas Perekat, Tingkatkan Daur Ulang
Regulasi ketat di Eropa mendorong inovasi kemasan kertas tanpa perekat, meningkatkan daur ulang dan keberlanjutan industri kemasan global.
Kemasan kertas dan karton seringkali dianggap sebagai pilihan yang ramah lingkungan karena sifatnya yang dapat didaur ulang. Namun, di balik asumsi tersebut, terdapat sebuah kendala signifikan: keberadaan perekat, segel, atau lapisan pelindung yang justru menghambat proses daur ulang. Dalam industri, material ini dikenal sebagai "stickies", dan kehadirannya dapat merusak mesin daur ulang, menurunkan kualitas kertas hasil daur ulang, bahkan menyebabkan seluruh batch kertas ditolak.
Padahal, kertas merupakan salah satu material yang paling banyak didaur ulang di Eropa, dengan sekitar 74% kertas dan karton yang dikonsumsi pada tahun 2024 berhasil didaur ulang. Potensi besar ini terhambat oleh masalah "stickies". Menyadari hal tersebut, otoritas Eropa semakin gencar mendorong perusahaan untuk berinovasi. Pada bulan Agustus, regulasi baru Uni Eropa mengenai kemasan dan limbah kemasan (PPWR) akan mulai berlaku, mewajibkan minimal 70% dari seluruh kemasan dapat didaur ulang pada tahun 2030, dan meningkat menjadi 80% pada tahun 2038. Selain itu, undang-undang di Jerman juga akan menuntut pelaporan yang lebih ketat dan biaya lisensi yang lebih tinggi. Kondisi ini menjadi katalisator bagi pengembangan solusi kemasan yang lebih berkelanjutan.
Inovasi Jerman Pimpin Solusi Kemasan Berkelanjutan
Tidak mengherankan jika inovasi terdepan dalam mengatasi masalah ini banyak bermunculan dari Jerman, negara yang dikenal sebagai "Packaging Valley" atau pusat industri kemasan. Tiga perusahaan terkemuka – Fraunhofer, Hermann Ultraschall, dan Henkel – telah mengembangkan pendekatan revolusioner untuk menyegel kemasan tanpa atau dengan perekat yang lebih ramah lingkungan.
- Fraunhofer (Proyek PAPURE): Organisasi riset Jerman ini meluncurkan proyek PAPURE pada tahun 2023 untuk mengembangkan proses pemanasan berbasis laser yang dapat menyegel kemasan kertas tanpa menggunakan perekat sama sekali. Proyek ini dijadwalkan selesai pada September, dan Fraunhofer berharap dapat menemukan mitra industri untuk membawa teknologi ini ke pasar dalam waktu dua tahun. Teknologi ini dipamerkan di pameran dagang Interpack di Dusseldorf pada bulan Mei dan menarik minat yang signifikan.
- Hermann Ultraschall: Perusahaan teknik ini pada tahun 2023 mengakuisisi hak untuk mengembangkan teknologi penyegelan kertas ultrasonik yang dipatenkan, sebuah proses yang diibaratkan seperti pengelasan. Hermann Ultraschall saat ini sedang aktif berdiskusi dengan beberapa pemain besar di pasar dengan fokus untuk membawa teknologi ini ke produksi massal.
Tantangan Implementasi Teknologi Baru
Meskipun solusi-solusi ini tampak sederhana, teknologi di baliknya cukup kompleks dan menghadapi sejumlah tantangan dalam implementasinya. Pertama, adopsi teknologi ini tidak semudah mengganti kemasan lama dengan yang baru. Ini memerlukan pembaruan, atau bahkan penggantian total, mesin yang ada di industri, yang bisa sangat mahal dan memakan waktu. Mesin-mesin yang ada saat ini dirancang untuk material perekat, sehingga diperlukan semacam desain ulang.
Selain itu, tingkat produksi saat ini masih jauh lebih lambat dibandingkan dengan kemasan kertas yang menggunakan perekat. Namun, para peneliti di Fraunhofer yakin bahwa produksi otomatis penuh dapat terus dikembangkan untuk meningkatkan kecepatan. Tantangan lain adalah bahwa teknologi ini tidak bekerja pada semua jenis kertas. Ada diskusi aktif dengan produsen kertas tentang bagaimana mereka dapat memproduksi bahan baku yang lebih mudah diikat. Proyek PAPURE juga belum menemukan cara untuk menerapkan teknologi penyegelan laser mereka pada kemasan makanan, yang memerlukan lapisan pelindung dan seringkali menjadi alasan mengapa plastik lebih disukai untuk kemasan makanan.
Henkel Hadirkan Solusi Perekat Ramah Lingkungan
Di tengah tantangan tersebut, Henkel, dengan divisi teknologi perekatnya, telah berhasil mengatasi beberapa hambatan. Pada bulan Februari, Henkel mengumumkan peluncuran solusi segel dingin (cold seal) pertama yang bekerja dengan kertas berlapis penghalang (barrier coated paper). Solusi ini tidak hanya dapat didaur ulang tetapi juga cocok untuk produk makanan, terutama yang sensitif terhadap panas seperti es krim atau cokelat, di mana penggunaan panas tidak memungkinkan. Solusi segel dingin Henkel sudah tersedia untuk produsen kemasan dan telah digunakan dalam produk makanan ringan dan kembang gula.
Sebelumnya, Henkel juga telah mengembangkan solusi segel panas (heat seal) untuk kertas yang sepenuhnya dapat didaur ulang. Inovasi ini memungkinkan merek Italia seperti Regina beralih dari kemasan plastik ke kertas untuk produk kebersihan mereka, seperti tisu toilet dan tisu dapur. Pergeseran ini menunjukkan bahwa dengan kolaborasi di seluruh rantai pasokan, perubahan menuju kemasan yang lebih berkelanjutan sangat mungkin terjadi, terutama dengan adanya tenggat waktu regulasi PPWR yang mendorong momentum industri.
Tren global menuju kemasan yang lebih berkelanjutan, seperti yang didorong oleh regulasi di Eropa, akan memiliki implikasi signifikan bagi pasar dan investor di Indonesia. Investor ritel dapat mulai memantau perusahaan-perusahaan di sektor kemasan, kertas, dan barang konsumsi (FMCG) di Indonesia yang menunjukkan komitmen terhadap praktik keberlanjutan dan inovasi dalam kemasan. Perusahaan yang proaktif dalam mengadopsi teknologi baru atau mengembangkan solusi kemasan ramah lingkungan, baik melalui investasi internal maupun kemitraan, kemungkinan akan memiliki keunggulan kompetitif di masa depan. Ini juga bisa menjadi peluang investasi jangka panjang di perusahaan yang berfokus pada aspek ESG (Environmental, Social, and Governance).
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan BBC Business.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.