Inggris Nasionalisasi British Steel, Raksasa Teknologi Hadapi Regulasi Ketat Eropa
Pemerintah Inggris mengambil alih British Steel untuk melindungi industri strategis, sementara raksasa teknologi seperti Google dan TikTok menghadapi pengawasan regulasi ketat di Eropa.
Lanskap ekonomi global terus menunjukkan dinamika yang menarik, dengan intervensi pemerintah di sektor industri strategis dan peningkatan pengawasan regulasi terhadap raksasa teknologi. Di Inggris, pemerintah mengambil langkah signifikan dengan menasionalisasi British Steel, sebuah keputusan yang digarisbawahi oleh kebutuhan untuk melindungi produksi baja domestik dan ribuan lapangan kerja. Sementara itu, di benua Eropa, perusahaan teknologi besar seperti Google dan TikTok menghadapi tekanan regulasi yang semakin ketat terkait tanggung jawab konten dan keamanan pengguna.
Pemerintah Inggris Ambil Alih British Steel
Pemerintah Inggris secara resmi mengambil alih kepemilikan British Steel, sebuah langkah yang disebut-sebut sebagai upaya krusial untuk mengamankan masa depan produksi baja di negara tersebut. Keputusan ini diambil setelah pemilik sebelumnya, JingyeGroup dari Tiongkok, mengindikasikan rencana untuk menutup dua tungku peleburan utamanya. Sejak April tahun lalu, pemerintah telah mengambil alih kendali operasional perusahaan yang mempekerjakan sekitar 2.700 orang di Scunthorpe ini.
Langkah nasionalisasi ini dimungkinkan setelah parlemen meloloskan undang-undang yang memungkinkan pemerintah mengambil alih industri baja jika memenuhi uji kepentingan publik. Pemerintah Inggris menyatakan bahwa nasionalisasi ini diharapkan dapat:
- Melindungi ribuan lapangan kerja.
- Mendukung industri yang bergantung pada baja buatan Inggris.
- Menjaga rantai pasokan, proyek infrastruktur besar, dan keamanan nasional.
Meskipun demikian, JingyeGroup telah mengisyaratkan akan menuntut kompensasi atas nasionalisasi ini, mengklaim utang sebesar £711 juta yang harus dibayar British Steel. Pemerintah berencana menunjuk penilai independen untuk menentukan jumlah kompensasi yang mungkin harus dibayarkan. Keir Starmer, pemimpin oposisi, menyambut baik keputusan ini, menyebut British Steel sebagai bagian integral dari kekuatan industri Inggris. Allan Bell, CEO sementara British Steel, juga menyebutnya sebagai “hari bersejarah” bagi manufaktur Inggris, menyatakan optimisme untuk membangun sektor baja yang berkelanjutan, kompetitif, dan terdekarbonisasi.
Google dan YouTube Terancam Tanggung Jawab Konten Mitra Komersial
Di ranah digital, Mahkamah Agung Eropa (ECJ) mengeluarkan putusan penting yang menyatakan bahwa Google dapat dimintai pertanggungjawaban hukum atas konten di YouTube yang dibuat oleh mitra komersialnya. Putusan ini muncul setelah Google mengajukan banding atas denda €750.000 yang dijatuhkan pengadilan Italia pada tahun 2022 terkait konten yang mempromosikan perjudian daring, melanggar hukum Italia.
ECJ menegaskan bahwa dasar hukum untuk denda tersebut sesuai dengan undang-undang e-commerce Uni Eropa. Lebih lanjut, pengadilan menolak argumen Google bahwa mereka harus dikecualikan dari regulasi konten dalam kasus ini karena video YouTube tidak diunggah melalui “aktivitas otomatis dan pasif yang mengecualikan pengetahuan atau kendali atas informasi yang ditransmisikan atau disimpan.” Para hakim berpendapat bahwa jika seorang operator meninjau tema utama saluran video, video yang paling banyak ditonton, atau video terbaru serta metadata terkait untuk tujuan kemitraan komersial, maka operator tersebut memperoleh pengetahuan spesifik tentang konten esensial. Dengan demikian, Google tidak dapat lagi mengklaim bertindak sebagai penyedia layanan perantara semata.
TikTok Diselidiki Atas Keamanan Anak di Inggris
Bersamaan dengan itu, regulator daring Inggris, Ofcom, juga tengah melakukan penyelidikan terhadap TikTok terkait langkah-langkah keamanan anak. Kekhawatiran khusus muncul mengenai pendekatan aplikasi video tersebut dalam memverifikasi usia pengguna. Hampir setahun setelah undang-undang Keamanan Daring diberlakukan, Ofcom menyatakan bahwa metode TikTok untuk menyimpulkan usia anak-anak mungkin gagal mengidentifikasi “proporsi signifikan anak-anak” secara benar, sehingga menempatkan mereka pada risiko terpapar konten berbahaya.
TikTok, dalam pernyataannya, menegaskan keyakinannya bahwa mereka memenuhi kewajiban Undang-Undang Keamanan Daring. Perusahaan tersebut menyatakan akan bekerja sama dengan Ofcom untuk menunjukkan bahwa mereka menerapkan pengalaman yang sesuai usia melalui aturan platform yang didasarkan pada pakar dan teknologi inferensi usia canggih, sejalan dengan praktik industri utama lainnya.
Implikasi bagi Investor Ritel Indonesia
Berbagai perkembangan global ini, meskipun terjadi jauh di Eropa, mencerminkan tren yang lebih luas dan memiliki implikasi tidak langsung bagi investor ritel di Indonesia. Nasionalisasi British Steel menunjukkan bahwa pemerintah di negara maju pun tidak ragu untuk campur tangan dalam industri strategis demi kepentingan nasional. Ini bisa menjadi sinyal bagi investor bahwa sektor-sektor tertentu mungkin rentan terhadap kebijakan serupa di berbagai negara, termasuk di pasar berkembang, yang dapat memengaruhi valuasi dan prospek investasi jangka panjang.
Di sisi lain, pengawasan ketat terhadap Google dan TikTok menyoroti peningkatan tekanan regulasi pada perusahaan teknologi global. Bagi investor Indonesia yang memiliki eksposur ke saham teknologi global atau perusahaan yang sangat bergantung pada platform digital, ini berarti potensi risiko regulasi yang lebih tinggi, yang dapat memengaruhi model bisnis dan profitabilitas. Pergerakan mata uang dan obligasi di Inggris, serta sentimen pasar terhadap kebijakan ekonomi, juga berkontribusi pada iklim investasi global. Meskipun dampaknya tidak langsung, sentimen positif atau negatif di pasar-pasar besar dapat memengaruhi aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia. Investor ritel perlu terus memantau tren regulasi dan intervensi pemerintah di sektor-sektor kunci global sebagai bagian dari analisis risiko makro mereka.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan The Guardian Business.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.