Memuat data pasar…
Global Ekonomi Global

Ekonomi Inggris Tumbuh Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Kamis, 16 Juli 2026

3 menit
Ekonomi Inggris Tumbuh Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik

Ekonomi Inggris menunjukkan pertumbuhan tipis 0,1% di bulan Mei, namun ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kenaikan harga energi membayangi prospek pemulihan global.

Ekonomi Inggris menunjukkan tanda-tanda pemulihan dengan mencatat pertumbuhan tipis pada bulan Mei, setelah sempat mengalami kontraksi di bulan sebelumnya. Namun, ekspansi yang terjadi sangat moderat, dengan bayang-bayang dampak konflik di Iran yang terus memengaruhi aktivitas bisnis. Kantor Statistik Nasional (ONS) melaporkan bahwa produk domestik bruto (PDB) Inggris tumbuh sebesar 0,1% di bulan Mei. Angka ini, meski kecil, mengindikasikan bahwa perekonomian mungkin telah melewati lonjakan harga energi yang dipicu oleh konflik di Timur Tengah dengan lebih baik dari perkiraan awal.

Ekonomi Inggris Tumbuh Tipis di Tengah Ketegangan Geopolitik

Pertumbuhan di bulan Mei sebagian besar didorong oleh ekspansi yang kuat di sektor jasa, yang menjadi tulang punggung perekonomian Inggris. Namun, kinerja positif ini sedikit teredam oleh penurunan yang terjadi di sektor produksi dan konstruksi. Secara kumulatif, selama periode tiga bulan hingga Mei, ONS mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 0,7% dibandingkan dengan periode tiga bulan sebelumnya. Liz McKeown, direktur statistik ekonomi di ONS, menjelaskan bahwa meskipun perekonomian mencatat pertumbuhan yang solid dalam tiga bulan tersebut, lajunya sedikit melambat dalam dua bulan terakhir, menunjukkan gambaran yang lebih lemah. Sektor pemrograman komputer dan periklanan menjadi pendorong utama, sementara industri farmasi yang seringkali volatil juga menunjukkan kinerja yang baik.

Sektor Jasa Jadi Penopang, Industri Lain Tertekan

Awal tahun ini, perekonomian Inggris sebenarnya menunjukkan momentum yang kuat. Namun, laju pertumbuhan mulai tersendat dalam beberapa bulan terakhir, terutama karena dampak konflik di Timur Tengah yang telah memengaruhi sejumlah bisnis. Konflik di Iran, khususnya, telah mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar, serta mengganggu rantai pasokan global. ONS melaporkan bahwa perusahaan di berbagai sektor telah mengidentifikasi konflik tersebut sebagai faktor yang memengaruhi aktivitas mereka, termasuk beberapa industri manufaktur, perusahaan perhotelan, agen perjalanan, dan perusahaan hiburan. Sejak permusuhan antara AS dan Iran kembali memanas pekan lalu, harga minyak telah melonjak dari sekitar $72 per barel menjadi $84 per barel, meskipun angka ini masih jauh di bawah puncaknya yang mencapai sekitar $120 per barel di awal tahun ini.

Ancaman Kenaikan Harga Energi dan Kondisi Pasar yang Rapuh

Para ekonom sepakat bahwa meskipun ada pertumbuhan, perekonomian Inggris tetap berada dalam kondisi yang “rapuh”. Fergus Jimenez-England, ekonom asosiasi di National Institute of Economic and Social Research, menegaskan bahwa data terbaru mengonfirmasi kerapuhan pertumbuhan ini. Dengan kembali naiknya harga energi, semua mata kini tertuju pada perdana menteri baru, Andy Burnham, untuk dapat menghadirkan stabilitas yang sangat dibutuhkan. Yael Selfin, kepala ekonom di KPMG, berpendapat bahwa cuaca yang lebih hangat dan Piala Dunia mungkin telah mendorong pengeluaran konsumen di bulan Juni dan Juli, namun hal ini “mungkin tidak cukup untuk mengimbangi kelemahan di bagian lain perekonomian.” Selfin juga menambahkan bahwa kenaikan harga energi baru-baru ini, yang dipicu oleh peningkatan ketegangan di Timur Tengah, dapat menimbulkan risiko terhadap prospek pertumbuhan, dengan kondisi keuangan yang juga semakin ketat sebagai akibatnya. Paul Dales, kepala ekonom Inggris di Capital Economics, menyebut pertumbuhan di bulan Mei sebagai “hadiah sambutan yang tidak buruk bagi PM Andy Burnham yang baru menjabat.” Namun, ia mengingatkan bahwa dengan harga energi yang lebih tinggi masih menahan pendapatan riil, perdana menteri baru tidak boleh terlalu cepat merasa nyaman.

Menanggapi angka-angka terbaru, juru bicara Kementerian Keuangan Inggris menyatakan bahwa pemerintah memiliki rencana ekonomi yang tepat yang telah menempatkan Inggris pada posisi yang jauh lebih kuat dibandingkan dua tahun lalu, dengan pertumbuhan tercepat di G7 pada kuartal pertama. Namun, Sir Mel Stride, menteri keuangan bayangan dari Partai Konservatif, mengkritik bahwa menteri keuangan Rachel Reeves telah “gagal” dalam upayanya untuk mendorong pertumbuhan.

Implikasi bagi Investor Ritel Indonesia

Bagi investor ritel di Indonesia, perkembangan ekonomi global, termasuk kondisi di Inggris dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah, memiliki relevansi yang signifikan. Kenaikan harga minyak global, misalnya, dapat memengaruhi biaya impor energi Indonesia dan berpotensi memicu inflasi domestik, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kebijakan suku bunga Bank Indonesia. Sentimen pasar global yang rapuh akibat ketidakpastian geopolitik juga dapat menyebabkan volatilitas di pasar saham dan obligasi Indonesia. Investor disarankan untuk tetap memantau perkembangan ini, terutama yang berkaitan dengan harga komoditas dan arah kebijakan moneter global, serta mempertimbangkan diversifikasi portofolio untuk menghadapi potensi gejolak.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan BBC Business.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Ekonomi Global