Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Menguat Signifikan di Tengah Pelemahan Bursa Asia, Dana Asing Masuk

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Sabtu, 18 Juli 2026

4 menit
IHSG Menguat Signifikan di Tengah Pelemahan Bursa Asia, Dana Asing Masuk

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatat penguatan signifikan di tengah tekanan bursa Asia lainnya, didorong oleh derasnya aliran dana asing yang masuk.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan ketahanan yang luar biasa baru-baru ini, berhasil ditutup menguat di tengah gejolak dan pelemahan yang melanda bursa saham di kawasan Asia lainnya. Kinerja positif pasar domestik ini didukung oleh aliran dana asing yang cukup deras, terutama menyasar saham-saham perbankan, memicu spekulasi mengenai potensi pergeseran portofolio investasi global.

Kinerja IHSG yang Solid dan Daya Tarik Sektor Perbankan

Pada perdagangan terakhir, IHSG berhasil menanjak 67,32 poin atau setara dengan 1,1%, mengakhiri sesi di level 6.173,53. Penguatan ini terbilang signifikan mengingat sentimen negatif yang menyelimuti pasar regional. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 363 saham berhasil menguat, sementara 274 saham melemah, dan 328 saham lainnya bergerak stagnan, menunjukkan adanya selektivitas investor dalam memilih aset.

Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) juga terpantau ramai dengan nilai transaksi mencapai Rp16,32 triliun. Volume perdagangan tercatat sebesar 24,04 miliar saham yang berpindah tangan dalam 1,99 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar saham Indonesia turut meningkat, mencapai Rp10.749 triliun. Salah satu pendorong utama penguatan ini adalah masuknya dana asing yang mencatat pembelian bersih (net buy) sebesar Rp638,6 miliar di seluruh pasar. Saham-saham dari sektor perbankan menjadi primadona dan incaran utama investor asing, menegaskan kembali posisi sektor ini sebagai tulang punggung pasar modal Indonesia.

Gejolak Pasar Asia dan Tekanan pada Sektor Teknologi Global

Berbeda dengan IHSG, sebagian besar bursa utama di Asia justru mengalami tekanan jual yang cukup dalam. Indeks Nikkei 225 Jepang anjlok hingga 4%, sementara S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,5%, dan indeks CSI 300 China merosot 3,6%. Pelemahan ini sebagian besar dipicu oleh sentimen negatif yang menyelimuti sektor semikonduktor dan teknologi secara global. Kekhawatiran terhadap prospek pertumbuhan di sektor kecerdasan buatan (AI) dan chip global tampaknya memicu aksi jual masif di pasar-pasar yang memiliki eksposur tinggi terhadap industri tersebut.

Tekanan ini tidak hanya terbatas di Asia, melainkan juga menjalar ke bursa Eropa. Saham-saham perusahaan semikonduktor terkemuka seperti ASML, ASMI, STMicroelectronics, Infineon, dan BE Semiconductor kompak menunjukkan koreksi tajam pada awal perdagangan. Fenomena ini mengindikasikan adanya koreksi sentimen investor terhadap valuasi dan prospek jangka pendek perusahaan-perusahaan di ekosistem teknologi dan chip global, yang sebelumnya telah mencatatkan kenaikan signifikan.

Analisis Aliran Dana Asing dan Potensi Rebalancing Portofolio

Melihat kontrasnya kinerja IHSG dengan bursa regional, muncul pertanyaan apakah ini merupakan indikasi rotasi dana asing dari pasar-pasar yang melemah ke Indonesia. Analis Panin Sekuritas, Elandry Pratama, berpendapat bahwa masih terlalu dini untuk menyimpulkan adanya rotasi dana secara langsung dari Jepang atau Korea Selatan ke Indonesia. Menurutnya, pelemahan di kedua negara tersebut lebih banyak disebabkan oleh tekanan spesifik pada sektor teknologi global.

Namun, Elandry tidak menampik adanya potensi rebalancing portofolio secara global. "Secara global memang ada potensi portfolio rebalancing ke pasar yang valuasinya lebih menarik," ujarnya. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa investor institusional mungkin sedang mencari pasar-pasar dengan valuasi yang lebih rasional atau prospek pertumbuhan yang lebih stabil di tengah ketidakpastian global, dan Indonesia bisa menjadi salah satu tujuan.

Senada dengan pandangan tersebut, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, juga menilai bahwa perpindahan dana ke Indonesia sangat mungkin terjadi. Liza menyoroti ekspektasi kenaikan suku bunga di Korea Selatan sebagai potensi sentimen negatif bagi pasar saham negara tersebut. "Korea Selatan kan pelaku ekonominya mau naikin suku bunga, akan jadi sentimen buruk ke pasar saham mereka yang memang sudah jagoan di tahun ini," kata Liza. Kenaikan suku bunga biasanya berdampak pada peningkatan biaya pinjaman dan dapat menekan valuasi saham, terutama di pasar yang telah mencatatkan kinerja kuat.

Kondisi ini menempatkan Indonesia dalam posisi yang menarik. Dengan valuasi yang relatif lebih kompetitif dibandingkan beberapa pasar maju di Asia, serta fundamental ekonomi yang cukup stabil, Indonesia berpotensi menjadi destinasi bagi investor yang mencari diversifikasi dan peluang pertumbuhan di tengah volatilitas global.

Bagi investor ritel di Indonesia, situasi ini menawarkan beberapa pelajaran penting. Pertama, meskipun pasar global bergejolak, pasar domestik dapat menunjukkan ketahanan yang didukung oleh faktor-faktor internal seperti aliran dana asing dan fundamental sektor tertentu, seperti perbankan. Kedua, penting untuk memahami bahwa sentimen global, terutama di sektor teknologi, dapat memiliki dampak luas, namun tidak selalu seragam di semua pasar. Investor disarankan untuk tetap fokus pada analisis fundamental perusahaan, memantau pergerakan dana asing, dan mempertimbangkan diversifikasi portofolio untuk menghadapi dinamika pasar yang terus berubah. Saham-saham perbankan dengan kode ticker seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI, yang menjadi incaran investor asing, bisa menjadi titik awal untuk analisis lebih lanjut, namun tetap dengan pertimbangan risiko masing-masing.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC Indonesia.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham