Memuat data pasar…
Global Ekonomi Global

Cuaca Ekstrem Tekan Panen Blackcurrant Inggris, Suntory Investasi Riset Ketahanan Tanaman

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Sabtu, 18 Juli 2026

3 menit
Cuaca Ekstrem Tekan Panen Blackcurrant Inggris, Suntory Investasi Riset Ketahanan Tanaman

Perusahaan pemilik Ribena, Suntory, menginvestasikan £200.000 untuk riset ketahanan blackcurrant di Inggris setelah cuaca ekstrem menekan panen hingga 10% di bawah rata-rata.

Ancaman Iklim Terhadap Produksi Blackcurrant Inggris

Industri pertanian di Inggris menghadapi tantangan serius akibat pola cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, mengancam pasokan buah-buahan penting seperti blackcurrant. Panen blackcurrant tahun ini, yang merupakan bahan baku utama minuman populer Ribena, diperkirakan akan menyusut sekitar 10% di bawah rata-rata 10.000 ton. Penurunan ini merupakan dampak langsung dari serangkaian kondisi iklim yang tidak biasa, mulai dari musim dingin terbasah dalam sejarah di beberapa wilayah, diikuti oleh embun beku lokal dan hujan es di musim semi, hingga gelombang panas dan kekeringan berkepanjangan selama Juni dan Juli.

Para petani melaporkan bahwa musim dingin yang sangat basah menghambat proses pemangkasan dan penyiangan, sementara embun beku dan hujan es merusak tunas muda. Kemudian, suhu panas ekstrem di musim panas menyebabkan buah gosong dan rontok sebelum waktunya, serta menghasilkan buah yang lebih kecil karena kurangnya curah hujan. Kondisi ini bukan hanya fenomena sesaat; tahun sebelumnya, periode panas dan kekeringan panjang juga mempercepat pematangan buah beri dua minggu lebih awal dari biasanya. Situasi ini menunjukkan bahwa perubahan iklim telah menjadi faktor dominan yang membentuk lanskap pertanian modern.

Investasi Suntory untuk Ketahanan Tanaman Jangka Panjang

Menanggapi krisis ini, Suntory Beverage & Food, perusahaan induk Ribena, mengumumkan investasi sebesar £200.000 untuk mendukung penelitian yang bertujuan meningkatkan ketahanan semak blackcurrant terhadap tekanan lingkungan. Harriet Prosser, seorang agronomis di Suntory, menyoroti betapa sulitnya musim ini bagi tanaman blackcurrant, dengan setiap tahun selalu mencatat rekor cuaca baru. Investasi ini merupakan bagian dari upaya jangka panjang untuk memastikan keberlanjutan produksi blackcurrant di Inggris.

Jo Hilditch, Ketua Asosiasi Perdagangan Blackcurrant Foundation dan seorang petani, menegaskan bahwa para petani kini beroperasi dalam iklim yang sangat berbeda dibandingkan satu dekade lalu. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara petani, Suntory, dan National Institute of Agricultural Botany (Niab) dalam riset praktis. Tujuannya adalah membangun tanah yang lebih sehat dan tanaman yang lebih tangguh, demi menjamin produksi blackcurrant Inggris dapat terus berkembang untuk generasi mendatang.

Strategi Inovatif Melawan Perubahan Cuaca

Program penelitian kolaboratif dengan Niab di East Malling, Kent, akan fokus pada dua area utama. Pertama, pengembangan varietas blackcurrant baru yang mampu menghasilkan lebih banyak buah tanpa memerlukan periode dingin yang panjang di musim dingin, sebagai adaptasi terhadap pemanasan global. Kedua, investigasi mendalam tentang bagaimana peningkatan kesehatan tanah dapat membantu semak blackcurrant lebih baik dalam menghadapi periode tekanan lingkungan.

Proyek ini akan mengevaluasi penggunaan bahan organik tambahan untuk tanah, seperti wol, pupuk kandang yang dipasteurisasi, dan produk limbah hijau. Tujuannya adalah untuk meningkatkan bahan organik tanah, retensi kelembaban, dan siklus nutrisi. Para peneliti akan menilai bagaimana elemen-elemen ini dapat berkontribusi pada kesehatan tanah, pertumbuhan tanaman, kekuatan semak, hasil panen, dan kualitas buah beri. Identifikasi pendekatan paling efektif ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan produksi blackcurrant di seluruh Inggris.

Implikasi bagi Investor Ritel Indonesia

Kisah blackcurrant di Inggris ini, meskipun tampak spesifik, mencerminkan tren global yang lebih luas tentang bagaimana perubahan iklim memengaruhi rantai pasokan pangan dan komoditas. Bagi investor ritel di Indonesia, ini adalah pengingat penting akan risiko dan peluang yang muncul dari isu keberlanjutan. Fluktuasi harga komoditas pertanian global akibat cuaca ekstrem dapat memicu inflasi pangan, yang pada gilirannya dapat memengaruhi kebijakan moneter bank sentral, termasuk Bank Indonesia. Investor perlu memperhatikan perusahaan-perusahaan di sektor makanan dan minuman, serta pertanian, yang memiliki strategi mitigasi risiko iklim yang kuat atau yang berinvestasi dalam teknologi pertanian berkelanjutan. Selain itu, ini juga menyoroti potensi investasi pada perusahaan yang mengembangkan solusi adaptasi iklim atau yang memiliki model bisnis yang lebih tangguh terhadap guncangan lingkungan, baik di pasar domestik maupun global.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan The Guardian Business.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Ekonomi Global