Memuat data pasar…
Economics Ekonomi

Piala Dunia 2026: Siapa Pemenang Finansial Sejati di Balik Gemerlap Turnamen?

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Minggu, 19 Juli 2026

4 menit
Piala Dunia 2026: Siapa Pemenang Finansial Sejati di Balik Gemerlap Turnamen?

Piala Dunia 2026 menggerakkan miliaran dolar, namun analisis menunjukkan hanya pihak tertentu seperti FIFA, penyiar, dan sponsor yang meraup untung besar, sementara penggemar menanggung beban finansial.

Gelaran akbar Piala Dunia 2026 yang sebentar lagi mencapai puncaknya bukan hanya tentang drama di lapangan hijau, melainkan juga pusaran ekonomi global yang menggerakkan miliaran dolar. Di tengah euforia para penggemar sepak bola dunia, pertanyaan besar muncul: siapa sebenarnya yang paling diuntungkan secara finansial dari mega-event ini, dan siapa yang justru harus merogoh kocek lebih dalam?

FIFA Mendulang Keuntungan Fantastis

Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA) secara konsisten menjadi entitas yang paling diuntungkan dari penyelenggaraan Piala Dunia. Menurut Marion Laboure, seorang ahli strategi senior dari Deutsche Bank Research, FIFA adalah pemenang finansial utama, dengan proyeksi pendapatan selama siklus empat tahunnya diperkirakan mencapai US$ 13 miliar, atau setara dengan sekitar Rp 232 triliun (dengan kurs Rp 17.900 per dolar AS). Sumber pendapatan utama FIFA berasal dari penjualan hak siar televisi, hak lisensi, layanan perhotelan, kesepakatan sponsor, serta penjualan tiket pertandingan. Selain itu, FIFA juga aktif di pasar sekunder melalui platform penjualan kembali tiket resminya, di mana mereka memungut biaya sebesar 15% dari pembeli maupun penjual. Angka ini jauh melampaui keuntungan yang diraih pada Piala Dunia 2022 di Qatar, yang mencapai US$ 7,6 miliar, terutama mengingat perluasan turnamen menjadi 48 tim dan penyelenggaraan di tiga negara (Kanada, Meksiko, AS) tanpa hambatan pandemi.

Penyiar dan Sponsor Meraup Peluang Komersial Baru

Meskipun perusahaan penyiaran harus mengeluarkan investasi besar untuk mendapatkan hak tayang turnamen, tingginya jumlah penonton global dan minat sponsor menjadikan Piala Dunia sebagai lahan subur untuk keuntungan. Penjualan slot iklan menjadi sumber pendapatan utama bagi para penyiar. Sebagai contoh, Fox Sports di Amerika Serikat membayar US$ 485 juta untuk hak siar di wilayahnya. Para ahli memperkirakan, rata-rata slot iklan berdurasi 30 detik selama Piala Dunia di Fox bernilai antara US$ 200 ribu hingga US$ 300 ribu, atau sekitar Rp 3,5 miliar hingga Rp 5,3 miliar. Angka ini bahkan bisa melonjak hingga US$ 750 ribu (sekitar Rp 13,4 triliun) selama pertandingan yang melibatkan tim Amerika Serikat di fase-fase akhir turnamen. Inovasi seperti jeda hidrasi yang diperkenalkan FIFA, meskipun diklaim murni untuk alasan olahraga, secara efektif menciptakan inventaris iklan baru yang menguntungkan penyiar dan sponsor. Sponsor resmi Piala Dunia juga membayar biaya besar untuk mengasosiasikan merek mereka dengan turnamen ini, namun hampir pasti mereka memperoleh keuntungan finansial signifikan, seperti yang terlihat pada merek global seperti Adidas dan Coca-Cola.

Penjual Merchandise Panen Besar dari Antusiasme Penggemar

Antusiasme para penggemar sepak bola di seluruh dunia juga membawa berkah bagi para penjual merchandise. Penjualan jersey tim nasional melonjak drastis, dengan Nike dan Adidas melaporkan peningkatan penjualan lebih dari dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia 2022. Jersey tim Inggris menjadi produk terlaris Nike, diikuti oleh Prancis, Brasil, Belanda, dan Amerika Serikat. Sementara itu, Adidas mencatat jersey Meksiko sebagai yang paling laris. JD Sports, salah satu platform daring olahraga terkemuka, juga melaporkan rekor penjualan jersey Inggris dan menyebut jersey Skotlandia sebagai penjualan terbaik secara keseluruhan. Lonjakan penjualan juga terlihat pada jersey Jerman, Brasil, Meksiko, dan Argentina, menunjukkan dampak langsung dari euforia turnamen terhadap sektor ritel.

Beban Finansial Penggemar dan Manfaat Terbatas Kota Tuan Rumah

Di sisi lain spektrum finansial, para penggemar sepak bola justru menjadi pihak yang paling merasakan dampak negatif secara ekonomi. Masalah utama adalah melambungnya harga tiket, diperparah dengan kebijakan harga dinamis FIFA yang memungkinkan harga naik seiring tingginya permintaan. Tiket resmi untuk pertandingan final di Stadion MetLife, New Jersey, misalnya, ditawarkan seharga US$ 32.970 (sekitar Rp 590 juta), bahkan beberapa tiket di pasar penjualan kembali mencapai lebih dari US$ 2 juta (sekitar Rp 35,8 miliar). Presiden FIFA, Gianni Infantino, membela harga tersebut dengan alasan sejalan dengan ajang olahraga besar lainnya di AS. Selain tiket, penggemar juga dibebani biaya penerbangan, makanan, dan akomodasi yang mahal. Contoh mencolok adalah kenaikan tarif kereta New Jersey Transit untuk perjalanan 30 menit menuju Stadion MetLife, yang melonjak menjadi US$ 150 dari tarif normal pulang-pergi US$ 12,90, meskipun kemudian diturunkan setelah protes. Sementara itu, 16 kota tuan rumah di AS, Kanada, dan Meksiko menyambut jutaan wisatawan, namun manfaat ekonomi lokal dari peningkatan aktivitas perhotelan dan bisnis dinilai terbatas. FIFA memperkirakan nilai tambah ekonomi global sekitar US$ 41 miliar, dengan US$ 17 miliar di antaranya diprediksi meningkat, namun distribusi manfaatnya tidak merata ke tingkat lokal.

Bagi investor ritel di Indonesia, dinamika finansial Piala Dunia ini memberikan beberapa pelajaran penting. Pertama, acara berskala global seperti ini menunjukkan kekuatan ekonomi dari hak kekayaan intelektual dan branding, yang bisa menjadi indikator potensi investasi pada perusahaan media, hiburan, atau merek-merek global yang terlibat. Kedua, lonjakan penjualan merchandise menggarisbawahi pentingnya sektor ritel yang responsif terhadap tren dan peristiwa besar. Namun, di sisi lain, tingginya biaya yang ditanggung konsumen akhir, seperti penggemar sepak bola, mengingatkan akan sensitivitas harga dan daya beli. Investor dapat mencermati kinerja perusahaan yang memiliki eksposur pada sektor-sektor ini, baik yang diuntungkan dari lonjakan permintaan musiman maupun yang terdampak oleh perubahan perilaku konsumen akibat biaya hidup yang meningkat.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Detik Finance.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Economics#Ekonomi