Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

Pasar Karbon Indonesia Diperkuat dengan Sistem Registri Unit Karbon

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Jumat, 10 Juli 2026

2 menit
Pasar Karbon Indonesia Diperkuat dengan Sistem Registri Unit Karbon

OJK meluncurkan Sistem Registri Unit Karbon untuk meningkatkan integritas pasar karbon Indonesia

Pasar karbon Indonesia telah memperoleh fondasi yang kuat dengan peluncuran Sistem Registri Unit Karbon (SRUK) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Menurut Ketua Dewan Komisioner OJK, Froderica Widyasari, SRUK akan memastikan pencatatan unit karbon yang transparan dan kredibel.

Pengembangan SRUK dan Integrasi dengan Bursa Karbon

SRUK merupakan hasil sinergi dan kolaborasi antar lintas lembaga. Dengan integrasi SRUK dan bursa karbon, diharapkan dapat meningkatkan integritas dan kepercayaan pasar. Integrasi ini juga akan memudahkan pengawasan dan memungkinkan pengambilan kebijakan yang tepat sasaran.

Manfaat SRUK bagi Pasar Karbon Indonesia

SRUK akan menjadi sumber utama data bagi semua pihak, sehingga dapat meningkatkan kepercayaan pasar. Selain itu, SRUK juga akan memudahkan pengawasan dan memungkinkan pengambilan kebijakan yang tepat sasaran. Dengan demikian, diharapkan dapat membantu Indonesia dalam meningkatkan posisi di pasar global.

Dampak SRUK terhadap Kinerja Pasar Karbon

Meskipun fondasi pasar karbon telah terbentuk, namun kinerja pasar karbon masih belum optimal. Dengan kehadiran SRUK, diharapkan dapat meningkatkan kinerja pasar karbon. Transaksi frekuensi bursa karbon dapat terus ditingkatkan, dan integritas pasar karbon dapat dipertahankan. Saat ini, transaksi bursa karbon masih kecil, yaitu baru Rp 93 miliar dengan transaksi frekuensinya 431 kali dan 155 pengguna jasa karbon.

Implikasi bagi Investor Ritel

Bagi investor ritel, peluncuran SRUK dapat meningkatkan kepercayaan terhadap pasar karbon Indonesia. Dengan demikian, investor ritel dapat mempertimbangkan untuk berinvestasi di pasar karbon, seperti saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode ticker seperti BBRI atau BMRI. Namun, perlu diingat bahwa investasi di pasar karbon masih memiliki risiko, sehingga investor ritel perlu melakukan analisis yang cermat sebelum membuat keputusan investasi.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC Indonesia.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham