Memuat data pasar…
Global ASEAN

Pariwisata Singapura Melonjak 5,8 Persen di Kuartal I 2026, Didorong Belanja Pengunjung

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Rabu, 15 Juli 2026

3 menit
Pariwisata Singapura Melonjak 5,8 Persen di Kuartal I 2026, Didorong Belanja Pengunjung

Penerimaan pariwisata Singapura tumbuh 5,8% menjadi S$8,6 miliar pada Q1 2026, didorong peningkatan belanja pengunjung dan strategi pariwisata berkualitas tinggi.

Penerimaan Pariwisata Melonjak Didorong Belanja Pengunjung

Sektor pariwisata Singapura menunjukkan kinerja yang kuat pada kuartal pertama tahun 2026, dengan total penerimaan mencapai S$8,6 miliar. Angka ini menandai kenaikan signifikan sebesar 5,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, ketika penerimaan tercatat S$8,1 miliar. Peningkatan ini sejalan dengan strategi pemerintah Singapura untuk mendorong pariwisata berkualitas, yang berfokus pada peningkatan belanja pengunjung.

Data dari Singapore Tourism Board (STB) yang dirilis pada Rabu (15/7) menunjukkan bahwa jumlah kedatangan wisatawan internasional juga mengalami kenaikan, mencapai 4,4 juta orang pada Q1 2026, naik 2,9 persen dari 4,3 juta pada Q1 2025. Meskipun demikian, STB mengingatkan bahwa di tengah ketidakpastian global yang berkelanjutan, permintaan wisatawan diperkirakan akan moderat ke depannya. Secara kuartalan, belanja wisatawan sedikit menurun 1,1 persen dari S$8,6 miliar pada kuartal terakhir 2025.

Kenaikan penerimaan pariwisata pada Q1 2026 didukung oleh kinerja yang bervariasi dari berbagai komponen pengeluaran. Tiga dari lima komponen utama menunjukkan peningkatan belanja dibandingkan periode Januari hingga Maret 2025. Pengeluaran untuk wisata, hiburan, dan permainan (SEG) mencatat lonjakan terbesar, naik 22,8 persen menjadi S$2 miliar. Belanja untuk kegiatan berbelanja juga tumbuh 7 persen, mencapai S$1,4 miliar, menjadikannya salah satu pendorong utama pertumbuhan penerimaan pariwata. Segmen 'komponen lainnya', yang mencakup pengeluaran untuk tiket pesawat maskapai Singapura, pajak pelabuhan, transportasi lokal, bisnis, medis, pendidikan, dan pengunjung transit, naik 1,3 persen menjadi S$2,5 miliar. Sebaliknya, pengeluaran untuk makanan dan minuman (F&B) sedikit menurun 1,9 persen menjadi S$1,2 miliar, sementara akomodasi turun tipis 0,2 persen menjadi S$1,4 miliar.

Dominasi Tiongkok dan Kontribusi Pasar Utama Lainnya

Dari sisi pasar, Tiongkok Daratan tetap menjadi penyumbang penerimaan pariwisata terbesar bagi Singapura pada Q1 2026, dengan kontribusi S$1,3 miliar (tidak termasuk segmen SEG karena sensitivitas komersial). Angka ini menunjukkan kenaikan 3,4 persen dari kontribusi mereka pada Q1 2025. Jumlah pengunjung dari Tiongkok Daratan juga meningkat 9,9 persen secara tahunan, mencapai 913.407 orang.

Indonesia menempati posisi kedua sebagai kontributor penerimaan pariwisata terbesar, menyumbang S$719,7 juta. Namun, angka ini sedikit lebih rendah 0,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jumlah wisatawan internasional dari Indonesia juga mengalami penurunan 2,2 persen secara tahunan, menjadi 626.225 orang pada kuartal tersebut. Pasar utama lainnya yang melengkapi daftar lima besar adalah Australia (S$533,3 juta), Amerika Serikat (S$465,7 juta), dan India (S$374,1 juta). Kontribusi dari Australia dan India masing-masing naik 1,2 persen dan 7,5 persen secara tahunan, sementara penerimaan dari AS turun 3,2 persen.

Tantangan dan Prospek Industri Pariwisata Singapura ke Depan

Meskipun kinerja yang positif, STB memperingatkan bahwa paruh kedua tahun ini akan diwarnai oleh ketidakpastian makroekonomi dan kendala kapasitas yang akan terus membebani perjalanan. Melissa Ow, Kepala Eksekutif STB, mengakui daya tarik Singapura yang berkelanjutan, namun juga menyoroti tantangan di depan. Ia menyatakan bahwa dengan melunaknya kedatangan pengunjung dari beberapa pasar sumber dan berlanjutnya ketidakpastian global, pihaknya akan bekerja sama dengan para mitra untuk mendorong permintaan wisatawan. Tiongkok Daratan, Australia, dan Malaysia diidentifikasi sebagai pasar sumber teratas yang tangguh bagi Singapura.

Kondisi pariwisata Singapura, sebagai salah satu pusat ekonomi utama di ASEAN dan investor asing terbesar di Indonesia, memiliki implikasi penting bagi pasar dan investor ritel di Tanah Air. Kinerja yang kuat di sektor pariwisata Singapura dapat mencerminkan kesehatan ekonomi regional yang lebih luas, yang berpotensi mendorong sentimen positif dan investasi dari Singapura ke Indonesia. Namun, penurunan tipis jumlah wisatawan dan penerimaan dari Indonesia ke Singapura bisa menjadi indikator perlambatan daya beli atau pergeseran preferensi perjalanan di kalangan masyarakat Indonesia, yang perlu dicermati oleh investor yang berinvestasi di sektor terkait pariwisata atau konsumsi domestik di Indonesia.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan BT Economy & Policy.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#ASEAN