Memuat data pasar…
Global Geopolitik

Ketegangan AS-Iran Memanas: Trump Ancam Hancurkan Iran, Sanksi Baru Picu Balasan

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Sabtu, 11 Juli 2026

3 menit
Ketegangan AS-Iran Memanas: Trump Ancam Hancurkan Iran, Sanksi Baru Picu Balasan

Hubungan Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah Presiden Trump mengancam akan menghancurkan Iran dan AS menjatuhkan sanksi baru, memicu kekhawatiran global.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memuncak, ditandai dengan ancaman keras dari mantan Presiden Donald Trump dan pemberlakuan sanksi keuangan baru oleh Departemen Keuangan AS. Situasi ini memicu balasan dari Teheran, yang menuduh Washington melanggar kesepakatan awal yang telah dicapai.

Ancaman Keras dari Washington dan Latar Belakangnya

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform media sosialnya, Truth Social, Donald Trump melontarkan ancaman serius terhadap Iran. Ia menyatakan bahwa jika Teheran berani bertindak atas ancaman untuk membunuhnya, Amerika Serikat akan “memusnahkan dan menghancurkan” Iran. Trump mengklaim bahwa “1000 Rudal telah Terkunci dan Siap” mengarah ke Republik Islam Iran, dengan ribuan lainnya akan segera menyusul.

Ancaman ini muncul setelah laporan dari media-media AS, termasuk Wall Street Journal, yang menyebutkan bahwa Israel telah berbagi informasi intelijen mengenai dugaan rencana Iran untuk membunuh Trump. Selain itu, Reuters melaporkan bahwa beberapa pelayat pada pemakaman seorang tokoh penting Iran yang gugur dalam serangan udara AS sebelumnya, membawa spanduk bertuliskan “Kami Akan Membunuh Trump”, menunjukkan sentimen anti-Amerika yang kuat di kalangan tertentu.

Sanksi Ekonomi Baru dan Reaksi Teheran

Di tengah retorika yang memanas, Departemen Keuangan AS meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Iran dengan menjatuhkan sanksi kepada seorang fasilitator keuangan yang dituduh membantu Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi Iran, dan elit rezim lainnya. Fasilitator bernama Ali Ansari ini dituduh mengawasi jaringan aset global yang luas untuk kepentingan para pemimpin Iran.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menyatakan bahwa Departemen Keuangan akan terus menggunakan setiap alat yang tersedia untuk mengisolasi para elit rezim Iran dari sistem keuangan global, dengan tujuan untuk melestarikan aset-aset tersebut bagi rakyat Iran. Namun, langkah ini segera mendapat respons keras dari Teheran. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, mengecam sanksi tersebut sebagai pelanggaran terhadap nota kesepahaman (MoU) yang dicapai antara AS dan Iran bulan lalu. Araghchi menegaskan bahwa Iran sejauh ini telah menepati janjinya, tidak seperti AS yang ia tuduh melanggar kesepakatan.

Dinamika Perundingan Damai di Tengah Eskalasi

Situasi ini menjadi semakin kompleks mengingat adanya laporan yang saling bertentangan mengenai status perundingan damai. Trump sebelumnya mengklaim bahwa AS dan Iran telah sepakat untuk melanjutkan pembicaraan, meskipun gencatan senjata yang ditetapkan oleh kesepakatan awal telah berakhir. Namun, media pemerintah Iran tidak segera mengkonfirmasi atau menyangkal permintaan untuk melanjutkan negosiasi tersebut.

Eskalasi militer juga kembali terjadi setelah militer AS melancarkan serangan ofensif baru terhadap Iran sebagai balasan atas serangan terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Departemen Keuangan AS kemudian mencabut pengecualian yang sebelumnya memungkinkan Iran untuk menjual minyaknya. Di tengah ketegangan ini, Oman, yang dikenal sebagai mediator kunci dalam upaya mengakhiri konflik, kembali memainkan perannya. Menteri Luar Negeri Iran dilaporkan tiba di Oman untuk melakukan pembicaraan, menunjukkan adanya upaya diplomatik di balik layar.

Implikasi Bagi Pasar dan Investor Indonesia

Ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat dan Iran memiliki potensi dampak signifikan terhadap pasar global, termasuk Indonesia. Eskalasi konflik di Timur Tengah, terutama yang melibatkan Selat Hormuz sebagai jalur vital pengiriman minyak dunia, dapat memicu lonjakan harga komoditas energi. Kenaikan harga minyak mentah akan berdampak pada biaya produksi dan transportasi di Indonesia, berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Bagi investor ritel di Indonesia, situasi ini dapat meningkatkan volatilitas pasar saham dan obligasi, mendorong sentimen penghindaran risiko (risk-off) yang membuat investor beralih ke aset yang lebih aman. Investor disarankan untuk mencermati perkembangan geopolitik ini, mempertimbangkan diversifikasi portofolio, dan berinvestasi pada sektor-sektor yang lebih tahan banting terhadap gejolak ekonomi global.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC International.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Geopolitik