Memuat data pasar…
Global Geopolitik

Ketegangan AS-Iran Eskalasi, Harga Minyak Global Melonjak Tajam

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Minggu, 19 Juli 2026

3 menit
Ketegangan AS-Iran Eskalasi, Harga Minyak Global Melonjak Tajam

Konflik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas setelah serangan mematikan, memicu kenaikan signifikan harga minyak global dan kekhawatiran pasar.

Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas secara signifikan setelah Amerika Serikat melancarkan serangan balasan terhadap pasukan Iran. Aksi militer ini merupakan respons atas serangan sebelumnya yang menewaskan dua personel militer AS di Yordania pekan lalu. Eskalasi konflik ini segera memicu kekhawatiran baru di pasar global, terutama terhadap pasokan minyak, dan mendorong harga komoditas energi melonjak tajam.

Ketegangan AS-Iran Memanas di Timur Tengah

Komando Pusat AS (CENTCOM) pada hari Minggu mengumumkan telah menargetkan fasilitas militer Iran, menandai malam kedelapan berturut-turut operasi militer terhadap target-target Iran. Serangan ini merupakan balasan atas insiden yang menewaskan dua tentara Amerika dan menyebabkan satu lainnya hilang di Yordania. Fasilitas yang dihantam mencakup situs pengawasan pesisir, pertahanan udara, kemampuan maritim, serta lokasi penyimpanan rudal dan drone, dengan tujuan mengurangi kapasitas militer Iran.

Presiden AS Donald Trump secara langsung memerintahkan serangan udara baru, yang dimulai pada Sabtu malam waktu setempat. Menurut CENTCOM, tujuan utama operasi ini adalah melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, serta menghukum pasukan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) yang bertanggung jawab atas serangan terhadap personel AS di Yordania.

Kesepakatan Damai Terancam Gagal Total

Perkembangan terbaru ini semakin mengancam kesepakatan damai sementara yang rapuh, yang telah disepakati antara AS dan Iran bulan lalu. Kesepakatan tersebut, dikenal sebagai Memorandum of Understanding (MoU) Islamabad, bertujuan membuka kembali Selat Hormuz yang strategis dan mengakhiri konflik. Namun, Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, pada hari Sabtu menyatakan negaranya telah menangguhkan komitmennya terhadap MoU, menuduh Amerika Serikat melanggar semua komitmennya.

Menanggapi pernyataan Iran, Presiden Trump dengan tegas menyatakan ketidakpeduliannya. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Mojtaba Khamenei, juga mengeluarkan peringatan keras, mengatakan Iran memiliki "pelajaran tak terlupakan" bagi AS. Khamenei menambahkan bahwa serangan berulang AS menunjukkan tanda tangan Trump pada MoU tersebut "sama sekali tidak berharga dan tidak memiliki kredibilitas." Sementara itu, jumlah korban jiwa dari pihak militer AS terus bertambah, dengan dua kematian tambahan di Yordania menambah total 16 personel militer AS yang tewas dalam aksi sejak perang dimulai pada 28 Februari. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa pengorbanan para pahlawan ini "hanya akan memperkuat tekad kami."

Dampak Langsung pada Pasar Minyak Global

Gejolak geopolitik di Timur Tengah ini segera tercermin dalam pergerakan harga komoditas global. Harga minyak mentah melonjak tajam pada hari Jumat, mencerminkan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan dari wilayah vital tersebut. Minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman September melonjak 4,6% menjadi $88,10 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Agustus naik 4,5% menjadi $82,49 per barel. Kedua patokan harga minyak ini mencapai level tertinggi sejak pertengahan Juni.

Secara mingguan, kedua patokan harga minyak tersebut mencatat kenaikan sekitar 16%. Brent berada di jalur kenaikan mingguan ketiga berturut-turut, sementara WTI mencatat kenaikan mingguan kedua. Kenaikan signifikan ini menggarisbawahi sensitivitas pasar terhadap stabilitas di Timur Tengah, terutama mengingat peran Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran minyak yang krusial.

Ancaman Baru dan Implikasi Lebih Luas

Situasi ini diperparah dengan laporan bahwa IRGC pada hari Sabtu memblokir empat kapal yang mencoba bergerak di bawah perlindungan AS melalui Selat Hormuz. Kuwait juga melaporkan bahwa pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone dari Iran. Presiden Trump, di sisi lain, bersikeras bahwa perang dengan Iran berjalan dengan baik, bahkan mengancam akan menyerang jembatan dan pembangkit listrik Iran dalam seminggu ke depan jika negara tersebut menolak untuk kembali ke meja perundingan.

Bagi investor ritel di Indonesia, eskalasi konflik di Timur Tengah ini membawa implikasi yang perlu dicermati. Kenaikan harga minyak global berpotensi memicu tekanan inflasi di dalam negeri, mengingat Indonesia masih mengimpor sebagian kebutuhan minyaknya. Hal ini dapat berdampak pada biaya logistik dan produksi berbagai sektor industri. Investor mungkin perlu mempertimbangkan kembali alokasi aset mereka, dengan potensi keuntungan pada saham-saham yang terkait dengan komoditas energi, namun juga mewaspadai sentimen risiko global yang dapat memicu koreksi di pasar saham secara keseluruhan. Diversifikasi portofolio dan pemantauan ketat terhadap perkembangan geopolitik serta kebijakan moneter global menjadi kunci dalam menghadapi ketidakpastian ini.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC International.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Global#Geopolitik