Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Tertekan 0,89% Akibat Pelemahan Rupiah dan Bursa Asia Anjlok

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Selasa, 28 Juli 2026

3 menit
IHSG Tertekan 0,89% Akibat Pelemahan Rupiah dan Bursa Asia Anjlok

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 0,89% pada Selasa (28/6/2026), terbebani pelemahan rupiah dan sentimen negatif dari bursa regional.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan hari Selasa, 28 Juni 2026, dengan pelemahan signifikan, mencatat penurunan 0,89% atau setara 55,19 poin, dan ditutup pada level 6.130,59. Pergerakan ini menandai pembalikan arah yang tajam setelah IHSG sempat menunjukkan ketahanan di sesi pertama, bahkan sempat menguat tipis 0,2% dan bergerak di rentang 6.130,59 hingga 6.199,44. Namun, tekanan jual yang masif di sesi kedua tak terhindarkan, menyeret mayoritas saham ke zona merah. Tercatat, sebanyak 380 saham mengalami penurunan, sementara hanya 281 saham yang berhasil menguat, dan 304 saham lainnya tidak bergerak dari posisinya.

Sentimen Negatif Global dan Regional Menekan Pasar

Pelemahan IHSG tidak terlepas dari sentimen negatif yang melanda pasar keuangan global dan regional. Nilai tukar rupiah kembali tak berdaya di hadapan dolar Amerika Serikat (AS), ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp18.055 per dolar AS. Ini merupakan hari perdagangan keempat berturut-turut bagi mata uang Garuda yang harus terdepresiasi. Rupiah sempat mengawali perdagangan dengan pelemahan 0,33% di level Rp18.060 per dolar AS dan bahkan menyentuh titik terlemahnya di Rp18.095 per dolar AS sepanjang hari.

Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau menguat tipis 0,01% ke posisi 101,491 pada pukul 15.00 WIB, menambah tekanan pada mata uang negara berkembang seperti rupiah.

Koreksi IHSG juga sejalan dengan kondisi bursa-bursa utama di Asia yang mayoritas ambruk pada hari ini. Bursa saham Korea Selatan, Kospi, menjadi salah satu yang paling terpukul dengan anjlok 10,84% setelah sempat mengalami penghentian perdagangan sementara (circuit breaker) karena penurunan lebih dari 8%. Kondisi serupa juga terjadi di bursa Taiwan yang turun 4,65%, Shenzen di China yang melemah 4,52%, dan Nikkei di Jepang yang terkoreksi 3,95%. Kepanikan di pasar regional ini menciptakan gelombang tekanan yang sulit dibendung oleh pasar domestik.

Sektor Properti dan Bank Jumbo Jadi Pemberat Utama

Tekanan jual yang masif di pasar tercermin dari kinerja sektor-sektor utama. Sektor properti menjadi pemberat terbesar bagi IHSG sepanjang hari, anjlok hingga 4,49%. Selain itu, sektor utilitas juga mencatat penurunan dalam sebesar 2,17%, diikuti oleh sektor energi yang terkoreksi 1,15%. Hanya sektor konsumer primer yang menunjukkan ketahanan relatif, meskipun mencatat penurunan tipis 0,09%, menjadikannya sektor dengan kinerja terbaik di tengah badai koreksi.

Beberapa saham dengan kapitalisasi besar turut menjadi pendorong utama pelemahan IHSG. Saham PT Maha Properti Indonesia (MPRO) memberikan kontribusi negatif terbesar, yakni -8,2 poin terhadap indeks. Emiten bank jumbo juga tak luput dari koreksi, dengan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyumbang -7,47 poin dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) berkontribusi -5,53 poin. Selain itu, saham-saham seperti PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG), dan PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga masuk dalam daftar saham-saham yang menekan IHSG.

Aktivitas Perdagangan Terbatas di Tengah Koreksi Pasar

Meskipun terjadi koreksi signifikan, aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia terbilang sepi. Nilai transaksi harian hanya mencapai Rp 10,7 triliun, melibatkan 23,6 miliar saham dalam 1,65 juta kali transaksi. Angka ini menunjukkan bahwa investor cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian pasar. Kapitalisasi pasar pun ikut terkikis, turun menjadi Rp 10.752 triliun.

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi pasar yang bergejolak seperti ini menuntut kehati-hatian ekstra. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan dan sentimen negatif dari bursa global dapat menciptakan volatilitas lebih lanjut. Penting untuk terus memantau perkembangan ekonomi makro, baik domestik maupun internasional, serta mengevaluasi kembali fundamental saham-saham yang dimiliki. Diversifikasi portofolio dan fokus pada investasi jangka panjang dengan emiten berkinerja solid dapat menjadi strategi yang bijak dalam menghadapi ketidakpastian ini.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC Indonesia.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham