Memuat data pasar…
Investment Berita Saham

IHSG Anjlok Tertekan Geopolitik Timur Tengah dan Tarif Dagang AS

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Sabtu, 25 Juli 2026

3 menit
IHSG Anjlok Tertekan Geopolitik Timur Tengah dan Tarif Dagang AS

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah signifikan, terbebani oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan kebijakan tarif dagang baru Amerika Serikat.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan akhir pekan dengan pelemahan signifikan. Pada Jumat sore, IHSG anjlok 118,88 poin atau setara 1,88 persen, mengakhiri sesi di level 6.196,43. Penurunan ini tidak hanya menyeret IHSG, tetapi juga memukul indeks saham unggulan LQ45 yang terkoreksi 1,97 persen menjadi 614,79. Pelemahan pasar modal domestik ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global dan kebijakan tarif dagang baru yang diumumkan oleh Amerika Serikat, menciptakan sentimen negatif yang meluas di bursa regional Asia.

Gejolak Geopolitik Memanas, Harga Minyak Melonjak

Pemicu utama pelemahan pasar global adalah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Serangan kelompok Houthi terhadap kapal tanker minyak Arab Saudi di Laut Merah kembali memicu kekhawatiran akan gangguan pasokan energi. Situasi ini diperparah dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menghancurkan infrastruktur Iran jika ada serangan terhadap kapal AS di Selat Hormuz. Ketegangan yang memuncak ini segera direspons oleh pasar komoditas, mendorong harga minyak mentah jenis Brent melampaui 100 dolar AS per barel. Kenaikan harga energi yang signifikan ini sontak memicu kekhawatiran inflasi global. Para pelaku pasar kini memperkirakan bahwa bank sentral di berbagai negara mungkin akan mempertahankan kebijakan moneter ketat, atau bahkan menaikkan suku bunga acuan, untuk meredam tekanan inflasi yang berpotensi berkepanjangan.

Ancaman Tarif Dagang Baru AS Perkeruh Sentimen Global

Selain ketegangan geopolitik, sentimen pasar juga terbebani oleh kebijakan tarif dagang baru yang diberlakukan oleh Amerika Serikat. Presiden Trump mengumumkan penerapan tarif sebesar 10 hingga 12,5 persen untuk impor dari sekitar 60 mitra dagang utama AS, yang mulai berlaku pada Jumat waktu setempat. Kebijakan proteksionisme ini berpotensi besar menimbulkan disrupsi pada rantai pasokan global, meningkatkan ketidakpastian ekonomi, dan memicu ancaman stagflasi—situasi di mana inflasi tinggi disertai pertumbuhan ekonomi yang melambat. Analis memproyeksikan bahwa tarif baru ini akan memperlambat pertumbuhan ekonomi global secara keseluruhan, dengan dampak sektoral yang bervariasi namun cenderung negatif.

Dampak Ganda bagi Perekonomian Domestik Indonesia

Kombinasi antara kenaikan harga minyak dunia dan pemberlakuan tarif dagang baru oleh AS tidak pelak akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diproyeksikan akan meningkat seiring dengan membengkaknya subsidi energi yang harus ditanggung pemerintah untuk menjaga stabilitas harga di dalam negeri. Kondisi ini akan mempersempit ruang fiskal pemerintah, membatasi kemampuan untuk melakukan stimulus atau investasi. Lebih lanjut, tekanan inflasi akan semakin terasa, dan Bank Indonesia berpotensi terdorong untuk menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas harga. Ancaman defisit neraca perdagangan juga membayangi, seiring dengan potensi pelemahan nilai tukar rupiah dan penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan harga-harga. Sektor-sektor ekonomi yang sangat bergantung pada impor atau ekspor ke negara-negara terdampak tarif AS juga berisiko mengalami perlambatan.

Pelemahan IHSG pada hari Jumat tercermin dari kinerja seluruh sebelas sektor yang terdaftar dalam Indeks Sektoral IDX-IC. Sektor barang konsumen non-primer menjadi yang paling terpukul, anjlok 3,26 persen, diikuti oleh sektor barang baku yang terkoreksi 3,06 persen, dan sektor transportasi & logistik yang turun 2,81 persen. Di tengah sentimen negatif ini, hanya sebagian kecil saham yang mampu menguat, seperti MCAS, ALKA, BULL, GOLD, dan KLIN. Sebaliknya, saham-saham yang mengalami pelemahan terbesar antara lain BAPA, COCO, FILM, JGLE, dan JELI. Aktivitas perdagangan tercatat sebanyak 2.229.000 kali transaksi, melibatkan 35,96 miliar lembar saham dengan nilai total Rp17,70 triliun. Data menunjukkan 113 saham menguat, 618 saham melemah, dan 234 saham tidak bergerak. Bursa saham regional Asia juga kompak melemah, dengan Nikkei Jepang turun 2,79 persen, Shanghai Tiongkok melemah 1,61 persen, Hang Seng Hong Kong terkoreksi 0,98 persen, dan Kospi Korea Selatan anjlok 5,72 persen. Hanya Strait Times Singapura yang menunjukkan pelemahan tipis 0,12 persen.

Bagi investor ritel di Indonesia, kondisi pasar yang penuh ketidakpastian ini menuntut kehati-hatian ekstra. Eskalasi geopolitik dan kebijakan dagang proteksionis global berpotensi menciptakan volatilitas tinggi di pasar saham. Investor disarankan untuk meninjau kembali portofolio investasi mereka, mempertimbangkan diversifikasi, dan fokus pada saham-saham emiten dengan fundamental kuat serta rekam jejak yang terbukti tangguh menghadapi gejolak ekonomi. Memantau perkembangan global secara cermat dan tidak panik dalam mengambil keputusan investasi jangka panjang akan menjadi kunci untuk menghadapi periode yang menantang ini.

Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan Antara Bursa.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Investment#Berita Saham