Harga Minyak Melonjak 4% Akibat Ketegangan AS-Iran, Picu Kekhawatiran Kenaikan Suku Bunga Fed
Harga minyak global melonjak hampir 4% setelah serangan AS ke Iran yang berkelanjutan, memicu kekhawatiran inflasi dan potensi kenaikan suku bunga Federal Reserve.
Harga minyak mentah global mengalami lonjakan signifikan, naik hampir 4% pada perdagangan Rabu pagi, setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke-11 kalinya secara berturut-turut terhadap Iran. Eskalasi ketegangan di Timur Tengah ini segera memicu kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan, mendorong harga patokan minyak Brent berjangka untuk pengiriman Juli naik 3,5% menjadi $94,20 per barel, setelah sempat mencapai level lebih tinggi. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak bulan depan juga menguat 3,8% menjadi $87,56 per barel.
Ketegangan AS-Iran Memanas di Selat Hormuz
Dalam pertemuan Menteri Luar Negeri ASEAN di Filipina pada Rabu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan komitmen Washington terhadap jalur diplomasi. Namun, ia secara terbuka menuduh Teheran melanggar kesepakatan bilateral terkait Selat Hormuz. “Masalah yang kami hadapi saat ini adalah mereka tidak serius dalam pembicaraan,” ujar Rubio. “Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan juga kepentingan sekutu kami.”
Pernyataan ini muncul setelah Komando Pusat AS (Centcom) melakukan serangan militer untuk malam ke-11 berturut-turut terhadap Iran pada Selasa. Pasukan Centcom menargetkan pusat operasi militer Iran, kemampuan maritim, hanggar pesawat, fasilitas penyimpanan drone, dan infrastruktur logistik militer. Unit militer tersebut menyatakan bahwa serangan ini bertujuan untuk “lebih lanjut mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz.” Rubio menambahkan bahwa Selat Hormuz, jalur pelayaran krusial untuk minyak dan komoditas vital lainnya, tetap menjadi poin krusial dalam pembicaraan bilateral. Ia menuduh Iran “menuntut hak” untuk mengendalikan jalur air tersebut, yang menurutnya akan menciptakan “preseden yang sangat berbahaya” bagi dunia.
Kekhawatiran Inflasi dan Kebijakan Hawkish The Fed Kembali Mencuat
Dengan tidak adanya terobosan signifikan terkait Iran, fokus pasar kembali beralih ke isu inflasi dalam 24 jam terakhir. Kenaikan harga minyak mentah Brent yang menembus level $90 per barel untuk pertama kalinya dalam lebih dari sebulan, dan kemudian melampaui $92 per barel pada Rabu pagi, kembali membangkitkan kekhawatiran akan guncangan stagflasi yang lebih luas. Jim Reid dari Deutsche Bank dalam catatannya pada Rabu pagi menyatakan, “Tidak ada tanda-tanda harga minyak akan mereda setelah AS mengonfirmasi serangan ke-11 berturut-turut terhadap Iran.”
Seiring dengan terus meningkatnya harga energi, ekspektasi investor terhadap langkah-langkah kebijakan Federal Reserve yang lebih hawkish turut meningkat. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada bulan Juli kembali naik menjadi 26% pada penutupan perdagangan Selasa, level tertinggi sejak kejutan data inflasi AS (CPI) yang lebih rendah dari perkiraan minggu lalu. Angka ini sempat mencapai 45% sehari sebelum rilis CPI dan turun serendah 10% sehari setelahnya. Pada Rabu pagi, pasar uang memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed sebesar 24,1% pada bulan ini, dan peluang 69% untuk kenaikan setidaknya seperempat poin pada bulan September, menurut perangkat FedWatch CME.
Risiko Pasokan Energi Global Meluas
Analis di ING dalam catatannya pada Rabu pagi menyoroti adanya “risiko pasokan yang meningkat” di pasar energi, seiring dengan memudarnya harapan akan gencatan senjata sementara antara AS dan Iran. Namun, gangguan yang dihadapi pasar tidak hanya terbatas di Timur Tengah. Di Laut Hitam, terminal CPC Rusia telah berhenti menerima minyak dari Kazakhstan, dengan pengiriman ditangguhkan menyusul serangan berkelanjutan terhadap kapal tanker. “Semakin lama penangguhan ini berlanjut, semakin besar kemungkinan Kazakhstan akan terpaksa membatasi produksi hulu,” catat analis ING. Volume minyak yang dikirim dari terminal CPC sangat signifikan, dengan sekitar 1,7 juta barel per hari dimuat pada bulan Juni. Gangguan ini menambah tekanan pada pasokan global yang sudah tegang, memperparah prospek kenaikan harga energi.
Bagi investor ritel di Indonesia, perkembangan ekonomi global ini memiliki implikasi yang patut dicermati. Kenaikan harga minyak mentah dunia secara signifikan dapat memicu inflasi impor di dalam negeri, terutama jika pemerintah memutuskan untuk menyesuaikan harga bahan bakar. Hal ini berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memberikan tekanan pada Bank Indonesia untuk mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau bahkan mempertimbangkan kenaikan suku bunga acuan, meskipun inflasi domestik saat ini terkendali. Selain itu, kekhawatiran akan kebijakan hawkish The Fed dan potensi stagflasi global dapat memicu sentimen penghindaran risiko (risk-off) di pasar keuangan global, yang berujung pada arus modal keluar dari pasar negara berkembang seperti Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah dapat merasakan dampaknya. Investor disarankan untuk memantau ketat perkembangan geopolitik dan kebijakan moneter global, serta mempertimbangkan diversifikasi portofolio ke sektor-sektor yang lebih defensif atau perusahaan dengan fundamental kuat yang tidak terlalu rentan terhadap gejolak harga komoditas.
Disadur dan ditulis ulang oleh redaksi Regular Investor dari pemberitaan CNBC International.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.