Memuat data pasar…

Dinamika Kinerja Perbankan Konglomerat: Tantangan Laba dan Strategi Prudensial di 2026

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Kamis, 2 Juli 2026

5 menit
Dinamika Kinerja Perbankan Konglomerat: Tantangan Laba dan Strategi Prudensial di 2026

Perbankan milik konglomerat mencatatkan kinerja bervariasi hingga Mei 2026. Simak analisis mengenai perlambatan pertumbuhan laba hingga strategi bank digital di tengah tantangan ekonomi.

Sektor perbankan yang dikendalikan oleh para konglomerat di Indonesia menunjukkan rapor yang beragam sepanjang lima bulan pertama tahun 2026. Di tengah situasi ekonomi yang penuh dengan tekanan eksternal, beberapa bank besar terlihat harus berjuang ekstra keras untuk menjaga pertumbuhan laba. Fenomena ini tidak lepas dari melambatnya ekspansi kredit di sejumlah sektor, serta meningkatnya beban pencadangan yang harus disisihkan oleh bank sebagai langkah antisipasi risiko.

Sebagai gambaran, Panin Bank milik Mu’min Ali Gunawan mencatatkan penurunan laba bersih sebesar 5,52 persen menjadi Rp 1,12 triliun hingga Mei 2026, yang sejalan dengan kontraksi penyaluran kredit sebesar 3,4 persen. Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) milik keluarga Hartono masih mampu mempertahankan pertumbuhan laba tipis 2,07 persen menjadi Rp 25,68 triliun dengan pertumbuhan kredit sebesar 4,85 persen. Begitu pula dengan Bank Mega milik Chairul Tanjung yang mencatatkan kenaikan laba terbatas hanya 0,87 persen di tengah stagnasi penyaluran kredit.

Strategi Prudent di Balik Pertumbuhan Bank Digital

Di segmen perbankan digital, Allo Bank menunjukkan dinamika yang cukup kontras. Meskipun penyaluran kreditnya melonjak tajam hingga 38,63 persen, pertumbuhan laba bersihnya tertahan hanya di level 1,04 persen. Hal ini terjadi akibat lonjakan beban pencadangan yang mencapai 93,74 persen menjadi Rp 222,24 miliar.

Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menegaskan bahwa langkah ini merupakan bentuk penerapan prinsip perbankan yang sangat berhati-hati atau prudential banking. Bagi mereka, mengejar volume kredit yang tinggi tanpa dibarengi dengan kualitas aset yang terjaga adalah sebuah risiko besar. Allo Bank tetap memegang teguh prinsip bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan harus berjalan beriringan dengan manajemen risiko yang matang dan struktur pendanaan yang sehat. Ke depan, mereka masih melihat ceruk pasar ritel digital sebagai mesin pertumbuhan utama yang cukup potensial.

Lonjakan Kinerja di Tengah Arus Perlambatan

Di tengah arus perlambatan kinerja yang melanda banyak bank, segelintir bank milik konglomerat justru mampu mencatatkan lompatan performa yang impresif. Bank Ina milik Salim Group, misalnya, sukses mencetak lonjakan laba hingga 200 persen menjadi Rp 64,65 miliar. Pencapaian ini didorong oleh pertumbuhan kredit sebesar 15,83 persen serta peningkatan pendapatan komisi atau fee-based income yang signifikan sebesar 52,57 persen.

Tidak mau kalah, Bank Mayapada milik Dato Sri Tahir juga mencatatkan kinerja yang jauh lebih cerah dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga Mei 2026, laba bersih Bank Mayapada melesat hingga 176,8 persen secara tahunan menjadi Rp 53,16 miliar. Meski pertumbuhan kredit hanya berada di level 6,18 persen, efisiensi dan pemilihan segmen kredit yang tepat menjadi kunci bagi bank ini untuk mencetak margin yang positif.

Selektif dalam Menyalurkan Pembiayaan

Direktur Utama Bank Mayapada, Hariyono Tjahjarijadi, mengungkapkan bahwa tahun ini perseroan memang menerapkan target pertumbuhan kredit yang moderat, yakni di kisaran 8 persen. Fokus penyaluran dana tetap diarahkan ke segmen UKM komersial yang bersinergi dengan ekosistem bisnis Grup Mayapada. Strategi ini dianggap lebih aman untuk menjaga margin di tengah ketidakpastian kondisi global.

Tantangan biaya dana atau cost of fund yang tinggi saat ini memang memaksa bank-bank untuk lebih selektif dalam memilih nasabah. Bank tidak lagi sekadar mengejar angka pertumbuhan, melainkan mencari portofolio kredit yang benar-benar memberikan imbal hasil positif. Kehati-hatian dalam mengucurkan kredit, terutama bagi bank-bank yang terafiliasi dengan grup bisnis besar, menjadi kunci utama agar margin bunga bersih tetap terjaga di tengah dinamika pasar yang masih menantang hingga penghujung tahun 2026.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Business