Memuat data pasar…
Business Kredit Perbangkan

Kredit Konsumer Melemah di Tengah Pertumbuhan Kredit Perbankan Dua Digit

RI

Tim Redaksi Regular Investor

Minggu, 28 Juni 2026

5 menit
Kredit Konsumer Melemah di Tengah Pertumbuhan Kredit Perbankan Dua Digit

Kredit perbankan tumbuh 11,51% hingga Mei 2026, ditopang investasi dan modal kerja. Namun, kredit konsumer melemah akibat tekanan daya beli dan kenaikan suku bunga. Simak analisis Regular Investor mengenai tren kredit perbankan.

Pertumbuhan Kredit Perbankan Ditopang Segmen Korporasi

Bank Indonesia (BI) mencatat kredit perbankan tumbuh 11,51% secara tahunan per Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan April yang naik 9,9%. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh kredit investasi yang melonjak 21,9% yoy, serta kredit modal kerja yang naik 8,09%.

Namun, kredit konsumer justru melemah. Outstanding kredit konsumer hanya naik 5,89% per Mei, melambat dari bulan sebelumnya yang tumbuh 6,13% dan dari akhir 2025 yang mencapai 6,58%. Ekonom CORE, Yusuf Rendy Manilet, menilai pertumbuhan kredit perbankan masih didominasi segmen korporasi. BI mencatat kredit debitur korporasi tumbuh 17,2% yoy, sementara kredit debitur perorangan hanya naik 3,4%.

Menurut Yusuf, akselerasi kredit lebih banyak berasal dari kegiatan produktif, bukan konsumsi rumah tangga. Kredit konsumsi seperti KPR, kredit kendaraan, dan multiguna menjadi segmen paling lemah. Kenaikan BI rate ke level 5,75% diperkirakan semakin menekan kredit konsumsi karena sensitif terhadap bunga. Selain itu, daya beli rumah tangga melemah setelah faktor musiman seperti THR Lebaran terserap, sementara pertumbuhan upah riil tertinggal dari inflasi.

Dampak ke Perbankan dan Prospek Konsumer

Tekanan kredit konsumer terlihat pada kinerja Bank Central Asia (BCA). Portofolio kredit konsumer bank ini bahkan kontraksi 2% per Maret 2026. Meski begitu, segmen kartu kredit masih tumbuh 6,8% yoy menjadi Rp 25,1 triliun. EVP Corporate Communication BCA, Hera F. Heryn, menegaskan bahwa pertumbuhan kredit konsumer sangat bergantung pada kondisi ekonomi.

Berbeda dengan BCA, Bank Syariah Indonesia (BSI) mencatat pembiayaan konsumer yang solid. Corporate Secretary BSI, Wisnu Sunandar, menyebut segmen konsumer menyumbang 40% dari total pembiayaan. Outstanding pembiayaan BSI per April mencapai Rp 332 triliun, tumbuh 16,69%. BSI optimistis pembiayaan konsumer masih kuat, terutama di bidang perumahan, otomotif, mitraguna, dan pensiunan.

Yusuf memperkirakan kredit konsumsi akan tetap landai hingga akhir 2026 karena dampak kenaikan suku bunga baru terasa penuh beberapa bulan mendatang. Dengan kondisi daya beli yang tertekan, pertumbuhan kredit konsumer diperkirakan tidak akan menjadi motor utama perbankan tahun ini. Sebaliknya, segmen korporasi dan investasi akan terus menjadi penopang utama pertumbuhan kredit perbankan.

Kesimpulan

Pertumbuhan kredit perbankan dua digit hingga Mei 2026 menunjukkan optimisme sektor korporasi dan investasi. Namun, pelemahan kredit konsumer mencerminkan tekanan daya beli rumah tangga dan dampak kenaikan suku bunga. Perbankan perlu menyeimbangkan strategi antara mendukung ekspansi korporasi dan menjaga keberlanjutan kredit konsumer agar pertumbuhan tetap inklusif.

Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.

Tags: #Business#Kredit Perbangkan