BEI Cabut Status Saham Terkonsentrasi PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY)
Bursa Efek Indonesia (BEI) resmi mencabut status High Shareholding Concentration (HSC) PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) setelah pengendali melepas sebagian saham ke publik. Simak detail kepemilikan terbaru dan implikasinya bagi investor.
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan bahwa PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY) tidak lagi masuk dalam kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi atau High Shareholding Concentration (HSC). Keputusan ini disampaikan melalui pengumuman resmi BEI dan KSEI pada 2 Juli 2026.
Sebelumnya, LUCY sempat ditandai memiliki kepemilikan saham yang terkonsentrasi. Namun, status tersebut berubah setelah pengendali perusahaan, PT Delta Wibawa Bersama, melepas sebagian sahamnya ke publik pada Juni 2026.
Manuver Pengendali dan Perubahan Struktur Kepemilikan
PT Delta Wibawa Bersama melepas 378,6 juta saham LUCY dalam periode 4–17 Juni 2026 dengan harga berkisar Rp79 hingga Rp1.385 per saham. Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Delta susut dari 59,42% menjadi 34,42% atau setara 521,4 juta saham, meski tetap berstatus sebagai pengendali.
Tools Analisa dan Screening Saham Dalam hitungan detik R-IDX Terminal
BEI sempat menegur manajemen LUCY terkait kesalahan dalam penyajian jumlah saham free float. Perbedaan data ditemukan antara laporan sebelumnya dan hasil verifikasi BEI, di mana terdapat selisih sekitar 98,85 juta saham. Kesalahan ini terkait kepemilikan afiliasi pengendali, termasuk Fasika Khaerul Zaman (0,58%), Aldi Imam Wibowo (0,32%), dan Dr Pratiwi Nugraheni (0,17%).
Susunan Pemegang Saham Terbaru
Mengacu pada data terbaru, PT Delta Wibawa Bersama kini menguasai 521,4 juta saham atau 34,42%. Sementara itu, Dimas Wibowo tercatat memegang 383,58 juta saham atau 25,32% sebagai pemilik manfaat akhir. Saham masyarakat non-warkat mencapai 222,3 juta atau 14,68%.
Beberapa nama yang masuk dalam porsi free float antara lain Hartono Sukirya (2,84%), Marrita Erhar (2,1%), Nugrahaning Dyah Larasati (1,37%), Agung Purnomo (1,29%), dan Refin Satrio (1,2%).
Implikasi bagi Investor
Lepasnya status HSC dari LUCY menandakan peningkatan likuiditas saham di pasar. Dengan free float yang lebih besar, saham LUCY berpotensi lebih menarik bagi investor karena distribusi kepemilikan yang lebih merata. Namun, investor tetap perlu mencermati tata kelola perusahaan, mengingat adanya catatan kesalahan dalam penyajian data kepemilikan sebelumnya.
Langkah pengendali melepas saham ke publik sekaligus menjadi sinyal positif bagi transparansi dan aksesibilitas saham LUCY di pasar modal Indonesia.
Disclaimer: Konten ini bersifat informatif dan bukan merupakan saran investasi. Selalu lakukan riset mandiri sebelum mengambil keputusan investasi.