Fast Food Indonesia (FAST) Masih Rugi Rp366 Miliar di 2025, Auditor Soroti Going Concern

Kerugian Berlanjut Meski Menyusut

PT Fast Food Indonesia Tbk (FAST), pengelola gerai KFC Indonesia, masih mencatatkan kerugian sepanjang tahun buku 2025. Perseroan membukukan rugi sebesar Rp366,04 miliar, turun 54,06% dibandingkan rugi tahun sebelumnya yang mencapai Rp796,71 miliar.

Jumlah Gerai Turun, Penjualan Stagnan

Sepanjang 2025, FAST menutup 25 gerai sehingga total gerai yang dikelola turun menjadi 690 unit, dari 715 gerai pada 2024.

Dari sisi penjualan, kinerja relatif stagnan di level Rp4,88 triliun, nyaris tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya. Beban operasional yang tinggi membuat perseroan tetap mencatat rugi usaha sebesar Rp311,66 miliar, meski lebih baik dibandingkan 2024.

Struktur Permodalan Tertekan

Kondisi keuangan FAST menunjukkan peningkatan risiko:

  • Utang bank jangka panjang: melonjak tajam menjadi Rp1,82 triliun dari Rp353,6 miliar pada 2024.
  • Total liabilitas: mencapai Rp4,51 triliun, jauh di atas ekuitas yang hanya Rp435,8 miliar.
  • Liabilitas jangka pendek: Rp1,99 triliun, melampaui aset lancar Rp667,8 miliar, menciptakan defisit modal kerja signifikan.

Arus Kas dan Going Concern

Meski menghadapi tekanan likuiditas, FAST masih mencatat arus kas operasi positif Rp203,9 miliar, menandakan bisnis inti tetap menghasilkan kas. Namun, kebutuhan belanja modal besar untuk penambahan aset tetap membuat arus kas investasi negatif, sehingga ketergantungan pada pendanaan eksternal meningkat.

Auditor independen menyoroti adanya ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha (going concern), seiring akumulasi rugi dan tekanan likuiditas yang dihadapi perseroan.

Langkah Korporasi

Sebagai upaya memperkuat permodalan, FAST melakukan aksi korporasi berupa penambahan modal tanpa hak memesan efek terlebih dahulu (PMTHMETD) pada 2025. Langkah ini turut meningkatkan modal disetor perseroan, meski belum cukup untuk menekan risiko keuangan secara keseluruhan.

Kesimpulan

Kinerja FAST sepanjang 2025 menunjukkan perbaikan dari sisi kerugian, namun tekanan likuiditas, lonjakan utang, dan stagnasi penjualan masih menjadi tantangan besar. Sorotan auditor terkait going concern menegaskan perlunya strategi restrukturisasi dan efisiensi agar bisnis KFC Indonesia tetap berkelanjutan di tengah persaingan ketat industri makanan cepat saji.

Post Comment