Pasar Saham Global Catat Kinerja Terkuat 2025, Goldman Sachs Prediksi Optimisme Berlanjut ke 2026
Saham Global Ungguli Obligasi dan Komoditas Sepanjang 2025
Menurut laporan terbaru Goldman Sachs, pasar saham global membukukan kinerja paling kuat sepanjang 2025, melampaui obligasi dan komoditas.
Dalam perbandingan berbasis indexed USD total returns:
- Saham global (MSCI AC World) mengungguli komoditas (S&P GSCI®).
- Saham global juga lebih tinggi dibanding obligasi (US Treasury tenor 10 tahun).
Volatilitas Awal Tahun, Rebound Tajam di Wall Street
Meski sempat mengalami koreksi tajam pada awal tahun, penguatan pasar saham tetap solid. Antara Februari–April 2025, indeks S&P 500 turun hampir 20%, sementara Nasdaq terkoreksi sekitar 25% akibat kekhawatiran tarif perdagangan dan tekanan di sektor teknologi AS.
Namun sejak titik terendah pada April, pasar saham pulih tajam:
- Indeks utama Wall Street melonjak hampir 45% dari level terendah.
- Rebound didorong oleh data ekonomi yang lebih baik dari perkiraan, meredanya kekhawatiran tarif, serta lonjakan laba perusahaan teknologi berkapitalisasi besar.
Saham-saham siklikal juga tampil lebih unggul dibanding saham defensif seiring membaiknya prospek pertumbuhan.
Penguatan Tidak Hanya di AS, Eropa dan Asia Lebih Bersinar
Goldman Sachs menilai penguatan saham tidak hanya terpusat di AS. Sepanjang 2025, sebagian besar pasar global justru mencatat kinerja lebih baik dibanding Wall Street.
- Pasar Eropa, China, dan Asia mencatat imbal hasil hampir dua kali lipat dibanding AS.
- Lonjakan signifikan terjadi di Italia, Spanyol, dan Korea Selatan.
- Pasar negara berkembang mulai menunjukkan penguatan berkelanjutan.
Diversifikasi geografis terbukti memberikan manfaat nyata bagi investor global.
Dukungan Kebijakan Moneter Global
Tren penguatan saham global didukung oleh:
- Pertumbuhan laba perusahaan yang lebih kuat.
- Kebijakan moneter longgar, termasuk penurunan suku bunga AS.
- Pelemahan dolar yang mendukung pasar negara berkembang.
Fase Optimisme dalam Siklus Ekuitas
Goldman Sachs menilai pasar saat ini berada dalam fase ‘optimisme’ dalam siklus ekuitas. Pada fase ini, kenaikan harga saham tidak hanya ditopang oleh pertumbuhan laba, tetapi juga oleh peningkatan valuasi seiring meningkatnya kepercayaan investor.
“Kenaikan harga saham mencerminkan kombinasi pertumbuhan laba dan peningkatan valuasi,” tulis laporan Global Equity Strategy, 2026 Outlook: Tech Tonic yang dirilis 18 Desember 2025.
Prospek 2026: Optimisme Berlanjut
Goldman Sachs memperkirakan fase optimisme ini masih akan berlanjut hingga 2026, seiring meluasnya penguatan pasar saham global.
Dengan dukungan fundamental yang kuat, pasar saham diproyeksikan tetap menjadi kelas aset unggulan dibanding obligasi dan komoditas.



Post Comment