Tekanan Ormas minta THR Pada Pengusaha Menjelang Idul Fitri: Tantangan bagi Iklim Investasi

Tekanan Ormas Terhadap Pengusaha Jelang Idul Fitri

Menjelang Hari Raya Idul Fitri, pengusaha di Indonesia menghadapi tekanan dari sejumlah organisasi masyarakat (Ormas) yang meminta tunjangan hari raya (THR) secara paksa. Jika permintaan ini tidak dipenuhi, ormas kerap melakukan tindakan agresif seperti penyegelan pabrik, yang baru-baru ini terjadi di salah satu pabrik kelapa sawit.

Ketua Umum Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Sahat Sinaga, menyoroti bahwa tindakan premanisme oleh ormas ini sudah melampaui batas. Bahkan, beberapa ormas besar terlibat dalam penjarahan hasil sawit di perkebunan di daerah seperti Kalteng, Kaltim, dan Riau.

Imbauan untuk Pemerintah

Sahat meminta pemerintah daerah untuk mengambil langkah tegas dalam melindungi pelaku industri. Menurutnya, tindakan ini mengganggu kenyamanan berbisnis di Indonesia dan berpotensi merusak iklim investasi.

Ia juga mengusulkan agar Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mengeluarkan pengumuman resmi yang melarang perusahaan melayani permintaan sumbangan dalam bentuk apapun dari pihak-pihak yang mengancam kenyamanan usaha.

Perspektif dari Apindo

Ketua Bidang Ketenagakerjaan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Bob Azam, mengakui bahwa praktik serupa memang terjadi di lapangan. Meski meminta sumbangan dianggap wajar, tindakan pemaksaan tidak bisa dibenarkan.

Bob menegaskan bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab sosial atau Corporate Social Responsibility (CSR), tetapi hal ini tidak seharusnya dijadikan alasan untuk tekanan yang berujung pada tindakan premanisme.

“Meminta itu sah-sah saja, tetapi jangan sampai memaksa. Kita tidak ingin tindakan ini merusak hubungan antara perusahaan dan masyarakat sekitar,” jelasnya.

Dampak pada Iklim Investasi

Praktik pemaksaan yang dilakukan oleh ormas ini tidak hanya mengganggu operasi perusahaan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan investor. Banyak pelaku usaha mulai mempertimbangkan untuk menarik investasi mereka dari Indonesia.

“Jika ada unsur paksaan, investor bisa pergi. Kita berharap aparat tidak hanya menjaga ketertiban, tetapi juga menegakkan hukum,” tambah Bob.

Kesimpulan

Tekanan ormas terhadap pengusaha menjelang Idul Fitri menambah tantangan bagi industri dan investasi di Indonesia. Diperlukan langkah tegas dari pemerintah dan aparat hukum untuk memastikan kenyamanan berusaha tetap terjaga.

Post Comment